HomeNEWS UPDATENationalBaterai LFP Primadona, Antam Optimistis Nikel Tetap Bernilai

Baterai LFP Primadona, Antam Optimistis Nikel Tetap Bernilai

BusinessUpdate – Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Nicolas D. Kanter optimistis penggunaan nikel atau nickel manganese cobalt oxide (NMC) sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik tetap memiliki nilai di tengah tren penggunaan lithium ferro-phosphate (LFP).

Ia tak menampik, saat ini sebagian besar baterai listrik menggunakan LFP ketimbang nikel. Namun, pengembangan ekosistem hilirisasi nikel diyakini akan meningkatkan permintaan nikel di industri baterai kendaraan listrik. 

Antam sendiri pada akhir 2023 lalu telah menandatangani kerja sama dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), anak usaha Hongkong CBL Limited (HKCBL) untuk proyek hilirisasi nikel di Indonesia dengan nilai investasi Rp7 triliun. 

“Itu adalah satu yang kita harus syukuri dan kita harus kawal. Karena ekosistem EV (electric vehicle) yang ada di Indonesia itu adalah yang pertama di dunia,” ujarnya di Jakarta, Selasa (23/1/2024). 

Nicolas mengatakan negara lain tak bisa membentuk ekosistem hilirisasi nikel karena tak memiliki sumber daya alam (SDA) yang besar seperti Indonesia. Maka RI berpeluang besar untuk mengembangkan nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. 

“Kita punya sumber daya alamnya, kita bisa monetize, kita akan bangun nickel sulfat-nya, kita akan bangun precursor, kita akan bangun electric vehicle battery-nya, bahkan recycling-nya juga akan dibikin. Jadi, this is going to be the first in the world,” paparnya. 

Dengan potensi yang besar tersebut, Antam optimistis nikel masih menjanjikan untuk dikembangkan. Nikel memiliki kelebihan tersendiri dari LFP yang membuat investasi penghiliran bijih nikel hingga menjadi baterai listrik masuk ke RI. 

Ia mengatakan, CBL sendiri merupakan produsen LFP dan NCM, sehingga pihaknya memang bermitra dengan perusahaan yang menguasai industri baterai kendaraan listrik. 

“Saya bilang lebih pede (kembangkan nikel), karena nikel mempunyai kelebihan-kelebihan. Untuk jangka panjangnya daripada baterai, itu baterai lebih baik, katanya dari sisi safety-nya juga lebih baik. Jadi saya pikir semua masing-masing punya kelebihan,” jelasnya. 

Ia menuturkan, perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah, untuk membuat harga komoditi NCM menjadi lebih terjangkau, infrastruktur yang memadai, hingga aturan yang mendukung pengembangan hilirisasi nikel. 

“Pada saat yang bersamaan kita juga nggak boleh terlena bahwa nickel base ini akan menguasai dunia? Enggak, kalau harganya juga mahal, bangunnya juga lama, dan aturan-aturannya juga susah. Pemerintah harus memberikan insentif-insentif kepada joint venture ini,” kata Nico. 

Sebagai informasi, pembahasan mengenai LFP menjadi ramai usai disinggung oleh Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka dalam debat Pilpres keempat pada Minggu (21/1/2024). (pa/jh)

Must Read