BusinessUpdate – Komika Babe Cabita meninggal dunia pada Selasa (9/4/2024), sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Babe dikabarkan menderita penyakit langka anemia aplastik. Apa gejala dan pengobatan penyakit ini?
Priya Prayogha Pratama, nama asli Babe Cabita, lahir pada 5 Juni 1989. Ia dikenal sebagai pelawak tunggal (komika). Debutnya di kancah nasional dimulai saat menyabet gelar juara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV pada musim ketiga tahun 2013.
Penyakit anemia aplastik yang diindap Babe Cabita tergolong langka. Anemia aplastik adalah sebuah kondisi langka dan serius yang terjadi ketika sel darah tidak cukup diproduksi di dalam tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh merasa lelah dan dapat meningkatkan risiko perdarahan dan infeksi yang tidak terkontrol.
Anemia aplastik diketahui mempengaruhi orang-orang pada segala usia, tetapi paling sering terjadi pada mereka yang berusia antara 10-20 tahun atau 60-65 tahun. Penyakit ini bisa terjadi tiba-tiba, atau berkembang secara perlahan dan memburuk setelah beberapa waktu. Anemia aplastik bisa ringan atau berat.
Perawatan untuk anemia aplastik meliputi obat-obatan, transfusi darah, dan transplantasi sumsum tulang yang juga disebut sebagai transplantasi sel induk.
Penyebab paling umum dari anemia aplastik adalah sistem kekebalan tubuh yang menyerang dan merusak sel induk di sumsum tulang orang tersebut. Akibatnya, sel punca yang rusak ini tidak mampu memproduksi sel darah dengan baik dan menyebabkan sumsum tulang menjadi kosong (aplastik) atau mengandung sel darah yang tidak mencukupi (hipoplastik).
Faktor lain yang dapat mempengaruhi fungsi sumsum tulang dan meningkatkan risiko anemia aplastik meliputi: paparan bahan kimia beracun, paparan insektisida, pestisida, dan bahan dalam bensin yang disebut benzena telah dikaitkan dengan risiko anemia aplastik yang lebih tinggi. Selain itu, efek samping obat-obatan tertentu. Beberapa antibiotik dan obat-obatan dapat menyebabkan anemia aplastik.
Kemoterapi dan radiasi juga dapat menyebabkan kerusakan sel-sel sehat termasuk sel-sel induk di sumsum tulang yang mengakibatkan anemia aplastik. Namun, efek samping ini bersifat sementara dan cenderung hilang setelah pengobatan kanker selesai.
Selama kehamilan, sistem kekebalan dapat menyerang sumsum tulang, sehingga mengurangi kemampuannya untuk memproduksi sel darah. Infeksi virus yang mempengaruhi sumsum tulang dapat memicu perkembangan anemia aplastik.
Adapun, virus hepatitis, cytomegalovirus, HIV, dan parvovirus B19 terkait dengan risiko anemia aplastik yang lebih tinggi. Gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan menyerang dan menghancurkan sel-sel sehat dapat mempengaruhi sel induk yang menyebabkan anemia aplastik.
Seseorang mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun. Jika ada gejala, maka gejalanya meliputi kelelahan, sesak nafas, pusing, sakit kepala. Juga detak jantung cepat dan tidak teratur. Kulit pucat atau ruam kulit. Mimisan, gusi berdarah atau pendarahan berlebihan dari luka kecil.
Anemia aplastik dapat bersifat sementara atau kronis. Jika tidak dikelola dengan baik maka kondisi dapat memburuk dan menyebabkan komplikasi yang fatal. (ip/jh. Foto: IG Babe Cabita)


