BusinessUpdate – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DI Yogyakarta mencatat tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel pada momen Idul Fitri 2024 masih di bawah target.
Kendati demikian, jumlah pemudik yang masuk ke DI Yogyakarta diprediksikan naik hingga 6% dibanding 2023. Sayangnya, jumlah tersebut belum berdampak signifikan bagi industri perhotelan.
“Kami kepleset di tanggal 8-10 April, dari target [okupansi] di 70% hanya tercapai 20-50%. Baru naik di tanggal 11 April 65% dan tanggal 12-13 rata-rata 85%,” jelas Deddy Pranowo Eryono, Ketua PHRI DI Yogyakarta, dikutip dari Bisnis, Selasa (16/4/2024).
Menurut Deddy tingkat okupansi kamar mulai berangsur turun pada 13-15 April 2024. “Rata-rata kami hanya 80% maksimal, target 90% tidak tercapai,” ucapnya.
PHRI DI Yogyakarta mencatat kenaikan jumlah pengunjung baru mencapai puncaknya pada H+2 Idul Fitri. Kondisi tersebut juga terjadi di restoran dan kafe di wilayah DI Yogyakarta.
Meskipun masih belum memenuhi target, namun kinerja sektor perhotelan itu sesuai dengan proyeksi yang dikeluarkan PHRI pada awal Maret lalu yang memperkirakan tingkat okupansi di atas 70%. Proyeksi itu berlaku utamanya untuk kota-kota tujuan pemudik.
Sebagai informasi, pada tahun sebelumnya, Kota Yogyakarta bersama Malang dan Cirebon menjadi kota favorit yang banyak dikunjungi pemudik.
Sebelumnya, pada Februari lalu, PHRI DI Yogyakarta mencatat okupansi kamar mengalami kenaikan di kisaran 5% sepanjang periode libur Imlek. Pada 7-11 Februari 2024, rata-rata okupansi kamar hotel berkisar di 75% meskipun di beberapa lokasi, keterisian kamar dilaporkan mencapai 90%.
Pada perkembangan lainnya, di Jawa Tengah, momen Idul Fitri diproyeksikan bakal mendongkrak kinerja sektor perhotelan. 18,23 juta pemudik yang melintas ke Jawa Tengah, juga akses Tol Trans Jawa, menjadi faktor pendorong utama. PHRI Jawa Tengah memperkirakan, musim mudik bakal mendongkrak okupansi kamar hingga 80%. (ip/jh)


