BusinessUpdate – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) bakal menagih klaim atas pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh senilai Rp5 triliun ke PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Laporan keuangan perseroan per akhir Maret 2024 menyebutkan, KSO WIKA-CRIC-CRDCCREC-CRSC mencatat saldo pekerjaan dalam proses konstruksi atas proyek kereta cepat Rp5,01 triliun. Nilai ini merupakan klaim atas cost overrun per 31 Desember 2023.
Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya mengatakan perseroan saat ini tengah menyiapkan dokumen penagihan ke KCIC, sekaligus menghitung kembali nilai tertagih.
Pihaknya sedang mengevaluasi langkah selanjutnya dan sedang me-review nilainya. Apabila memungkinkan, perseroan akan melakukan pengajuan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sebagai informasi, KCIC merupakan perusahaan patungan yang didirikan oleh konsorsium Indonesia yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan kepemilikan 60% saham, sementara konsorsium China menggenggam sisanya.
Kepemilikan PSBI terdiri atas perusahan-perusahaan pelat merah, yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI), Wijaya Karya, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), dan PT Perkebunan Nusantara VIII. Adapun, WIKA memiliki 38% saham PSBI.
Sebelumnya, Direktur Utama Wijaya Karya Agung Budi Waskito mengatakan Proyek Kereta Cepat Whoosh merupakan salah satu penyebab membengkaknya rugi perseroan. Menurut Agung, terdapat dua komponen utama yang mempengaruhi keuangan perseroan sepanjang 2023, yakni beban bunga yang cukup tinggi dan membengkaknya beban lain-lain karena adanya kerugian yang ditanggung PSBI.
“Di dalam laporan tadi ada dua komponen yang pertama adalah beban bunga yang cukup tinggi, kedua adalah beban lain-lain di antaranya mulai tahun 2022 kami sudah mencatat adanya kerugian dari PSBI atau kereta cepat yang tiap tahun juga cukup besar,” ujarnya saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, awal Juli 2024.
Sepanjang 2023, WIKA tercatat membukukan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp7,12 triliun. Jumlah tersebut meningkat dari posisi 2022 yang mencapai Rp59,59 miliar. Sedangkan beban lain-lain, meningkat 310,16% menjadi Rp5,4 triliun.
“Memang paling besar karena dalam penyelesaian proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung, yang memang dari penyertaannya saja sudah Rp6,1 triliun, kemudian yang masih dispute atau belum dibayar sekitar Rp5,5 triliun sehingga hampir Rp12 triliun,” kata Agung.
Sementara itu, Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi memaparkan pihaknya telah menyepakati besaran setoran modal yang akan diberikan untuk membayar pembengkakan biaya proyek Kereta Cepat Whoosh. Ia menjelaskan bahwa dari total pembengkakan biaya proyek kereta cepat yang disepakati sebesar US$1,2 miliar, sebanyak 40% atau US$480 juta di antaranya dibayarkan oleh pihak konsorsium China yang menjadi pemegang saham KCIC. (rn/jh)


