BusinessUpdate – Memacu inovasi teknologi dan digitalisasi layanan keuangan adalah suatu keharusan, langkah ini merupakan komitmen PT Jasaraharja Putera yang dipaparkan dalam penjurian Indonesia Digital Technology and Innovation (IDTI) Awards 2026 pada Jumat (25/09/2026).
Dalam sesi penjurian tersebut, PT Jasaraharja Putera dihadiri Direktur Utama Abdul Haris, Corporate Secretary Widya Marisa, serta IT Group Head Slamet Riyadi bersama tim.
Pada sesi pemaparan, PT Jasaraharja Putera menjelaskan Open API (Application Programming Interface) sebagai backbone yang menghubungkan beberapa sistem digital di PT Jasaraharja Putera dengan pihak luar secara terstandarisasi.
- Ecosystem (Partner & Channel), Ini adalah pihak-pihak luar yang bekerja sama dengan perusahaan, seperti bank, penyedia pembayaran (payment provider), broker, korporasi, marketplace, bengkel, ekosistem BUMN, hingga mitra pariwisata.
-Gateway & Hub Ini berfungsi sebagai pengaman dan pengatur lalu lintas data. Data dari mitra luar akan disaring keamanannya terlebih dahulu di depan (WAF & API Gateway). Keamanan dan rate limiting di depan; routing, mapping, transformasi, orkestrasi, dan monitoring di belakang
-Systems (Core & Surrounding Services) JP-CGISS sebagai core insurance, didukung surrounding, back office, financial reporting, dan analytics.
Di samping itu ada pula metode Integrasi & Layanannya:
-API Integration
Layanan real-time untuk quotation, polis, status klaim.
-Host-to-Host
Kanal langsung dengan bank dan mitra strategis.
-Asynchronous / Queue
Menjaga layanan tetap stabil pada beban tinggi.
-Batch / File
Rekonsiliasi, pelaporan, pertukaran data volume besar.
Selain dari hal tersebut, 13 kanal telah terintegrasi, perusahaan saat ini sudah memiliki 13 kanal host-to-host yang terhubung dengan bank dan mitra, sedangkan keuntungan Sistemnya:
-Proses kerja sama dengan mitra baru menjadi jauh lebih cepat (faster partner onboarding).
-Bentuk integrasi data menjadi seragam (standardized integration).
-Keamanan data lebih terjaga (better security).
-Pengawasan sistem bisa dikontrol dari satu titik pusat (centralized monitoring).
-Ekosistem digital perusahaan mudah dikembangkan ke depannya (scalable digital ecosystem).
Jalannya sesi penjurian berlangsung interaktif, IT Group Head Slamet Riyadi menyampaikan terkait apa yang disampaikan oleh dewan juri, semuanya adalah masukan yang positif.
”Seperti misalnya dalam hal membuat kajian atau mengeksekusi program kerja termasuk bagaimana kita membuat perencanaan. Tadi seperti disampaikan oleh Pak Priyantono bahwa memang teknologi ini bisa dibeli. Namun, kita harus memperhatikan apa impact-nya terhadap bisnis. Jadi, business alignment itu penting. Setiap inisiatif strategis dari setiap lini, di IT sendiri itu harus kita melihat dampak terhadap bisnis perusahaan. Impact-nya seperti apa? Jadi, bisnis impact dan itu bagian yang harusnya masuk ke dalam playbook kalau menurut saya, karena bagian dari perjalanan perusahaan sehingga apa yang kita jalankan tercatat semua, baik yang berhasil maupun tidak berhasil. Kemudian dari Prof. Yandra juga kaitan dengan teknologi terkini yang saat ini relevan untuk diadopsi khususnya di industri asuransi, kayak Big Data, blockchain dan automasi IoT. Itu sebetulnya banyak teknologi yang dibutuhkan. Namun, dari sisi ketersediaan infrastruktur kemudian sistem saat ini mungkin belum atau belum ekstensif ya di industri asuransi. Jadi, salah satu yang tadi bahwa memang harus ada kemitraan strategis antara pelaku industri dengan para peneliti, para pengembang sehingga nanti implementasinya bisa sesuai dengan harapan,” tutup Riyadi. (kiy)


