BusinessUpdate – Berkat pengembangan aktivitas komersial di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) mencatat pertumbuhan pendapatan dalam tiga tahun terakhir.
Berdasarkan laporan audited 2025, pendapatan PPKGBK mencapai Rp812 miliar, meningkat dibandingkan dengan pendapatan yang tercatat sebesar Rp566 miliar pada 2024 dan Rp415 miliar pada 2023. Pertumbuhan pendapatan tersebut menjadi bagian dari upaya PPKGBK meningkatkan produktivitas aset, memperluas kegiatan komersial, serta mengembangkan ekosistem olahraga dan hiburan di kawasan GBK.
Direktur Utama PPKGBK Rakhmadi A. Kusumo mengatakan, peningkatan pendapatan perlu berjalan beriringan dengan pengembangan kualitas fasilitas dan pelayanan publik.
“Kami ingin aset negara semakin produktif. Peningkatan pendapatan harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas fasilitas, pelayanan publik, pemeliharaan kawasan, dan manfaat ekonomi yang lebih luas,” kata Rakhmadi dalam keterangan tertulis, Jumat (25/9/2026).
Pertumbuhan pendapatan PPKGBK tercatat sejak 2023 hingga 2025. Pada 2023, pendapatan PPKGBK mencapai Rp415 miliar, kemudian meningkat menjadi Rp566 miliar pada 2024. Sementara itu, berdasarkan laporan audited 2025, pendapatan PPKGBK mencapai Rp812 miliar.
Dengan demikian, pendapatan PPKGBK pada 2025 meningkat Rp246 miliar dibandingkan dengan 2024. Jika dibandingkan dengan 2023, pendapatan tersebut bertambah Rp397 miliar.
Peningkatan kinerja pendapatan diarahkan untuk mendukung pelayanan, pemeliharaan dan pengembangan aset, serta peningkatan penerimaan dan manfaat ekonomi bagi negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Rakhmadi mengatakan, optimalisasi aset menjadi salah satu bagian dari transformasi pengelolaan GBK, termasuk melalui peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan kerja sama komersial.
Selain mengelola Stadion Utama GBK, PPKGBK mengembangkan pemanfaatan berbagai fasilitas dan ruang di dalam kawasan untuk kegiatan olahraga, hiburan, konferensi, dan pameran.
Sejumlah fasilitas yang menjadi bagian dari ekosistem kawasan tersebut meliputi Stadion Utama GBK, Indonesia Arena, Istora Senayan, Tennis Indoor, Stadion Madya, Jakarta International Convention Center (JICC), serta ruang publik lainnya.
Ragam kegiatan tersebut mencakup pertandingan olahraga, konser musik, kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), pameran, festival, aktivitas komunitas, dan hiburan keluarga.
Pengembangan kegiatan olahraga, hiburan, dan MICE di GBK tidak hanya diarahkan pada pemanfaatan fasilitas, tetapi juga pada perluasan dampak ekonomi terhadap pelaku usaha dan sektor pendukung. Rakhmadi mengatakan, meningkatnya kepercayaan terhadap GBK sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan nasional dan internasional perlu memberikan dampak lebih luas kepada ekosistem bisnis di sekitarnya. (pa/jh. Foto: Dok. Sekretariat Negara)


