BusinessUpdate – PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (Perseroda) atau JIEP mencatat pengolahan sampah menjadi kompos sepanjang 2023 hingga 2026 sebanyak 54,6 ton. Pengelolaan sampah ini tidak hanya untuk mengurangi volume sampah di tempat pemrosesan akhir, tetapi juga mendorong pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna.
Direktur Utama PT JIEP Dharma Satriadi mengatakan, pengelolaan sampah sejak dari sumber menjadi bagian penting untuk mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
“Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 memberikan arah yang jelas bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya. Itu sejalan dengan peran kami sebagai pengelola kawasan industri,” kata Satriadi dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).
Karena itu, pihaknya berupaya menerjemahkan semangat pilah dan olah sampah melalui pengelolaan di kawasan, edukasi, penyediaan sarana, serta kolaborasi bersama pemerintah dan masyarakat.
Pengelolaan tersebut dilakukan melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Kawasan Industri Pulogadung. JIEP mendorong pemilahan sampah sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos.
Berdasarkan data produksi JIEP, pengolahan sampah dengan metode manual sepanjang 2023 hingga 2026 menghasilkan 50.572 kilogram atau sekitar 50,6 ton kompos.
Sementara itu, pengolahan menggunakan metode mesin menghasilkan tambahan 4.040,8 kilogram atau sekitar 4 ton. Dengan demikian, total produksi kompos yang tercatat mencapai 54.612,8 kilogram atau sekitar 54,6 ton. Kompos tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan kawasan dan kebutuhan pembibitan tanaman.
Upaya pengelolaan dari sumber juga diperluas melalui edukasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan. JIEP berkolaborasi dengan Suku Dinas Lingkungan Hidup memberikan pelatihan pengelolaan sampah kepada petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di berbagai wilayah Jakarta.
JIEP juga memberikan sarana pemilahan sampah berupa tempat sampah terpilah dan gerobak sampah kepada sekolah maupun lingkungan RT/RW di wilayah ring 1 kawasan. Dukungan tersebut disertai edukasi mengenai pemilahan sampah dari sumber.
Selain itu, JIEP memberikan pelatihan kepada komunitas bank sampah dan melakukan edukasi pemilahan sampah secara internal kepada karyawan. Kolaborasi juga terus didorong bersama pelaku usaha dan tenant di kawasan agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada pengangkutan.
Dharma mengatakan, pengurangan sampah yang berakhir di Bantargebang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pengelola kawasan hingga pelaku usaha dan masyarakat.
“Mengurangi sampah yang berakhir di Bantargebang tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pengelola kawasan, pelaku usaha, pekerja, pemerintah, sekolah, dan masyarakat agar pemilahan serta pengolahan sampah dapat berjalan secara konsisten sejak dari sumbernya,” ujar Dharma.
Menurutnya, pengelolaan sampah dari sumber tidak hanya berkaitan dengan kebersihan kawasan, tetapi juga pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna. Target akhirnya bukan hanya kawasan yang lebih bersih, tetapi bagaimana semakin banyak sampah yang dapat kita kelola dan manfaatkan kembali sebelum menjadi residu.
“Dengan kolaborasi yang konsisten, kami berharap kontribusi JIEP dapat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di Bantargebang sekaligus mendukung terciptanya Kawasan Industri Pulogadung yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutut Dharma. (ip/jh. Foto: Dok. JIEP)


