BusinessUpdate – Bank Indonesia (BI) dan Bank Sentral Timor-Leste menyiapkan kerja sama QRIS lintas negara ((QRIS Cross Border) agar transaksi masyarakat kedua negara dapat dilakukan tanpa menggunakan dollar Amerika Serikat (AS).
Menurut Gubernur BI Destry Damayanti kerja sama tersebut penting karena transaksi masyarakat Indonesia dan Timor-Leste selama ini masih menggunakan dollar AS.
“Kalau bayarnya pakai dollar, yang kena di kami BI karena permintaan dollarnya akan semakin tinggi,” kata Destry saat membuka Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 di Lippo Plaza Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (3/10/2026).
Ia menambahkan, BI dan Bank Sentral Timor-Leste telah menandatangani perjanjian terkait pengembangan QRIS untuk transaksi lintas negara. QRIS Cross Border nantinya memungkinkan masyarakat kedua negara melakukan pembayaran secara langsung menggunakan mata uang masing-masing.
Transaksi tidak perlu lebih dulu dikonversikan melalui dollar AS. “Sehingga, dengan adanya QRIS cross border antara penduduk kita dengan penduduk Timor Leste yang transaksi, maka tidak perlu melalui dollar Amerika Serikat. Kita rupiah bisa langsung transaksi. Maupun sebaliknya,” ujar Destry.
Menurut Destry, kerja sama pembayaran digital tersebut dapat memperkuat transaksi ekonomi Indonesia dan Timor-Leste. Hubungan kedua negara tidak hanya berlangsung melalui perdagangan, tetapi juga melalui hubungan keluarga dan mobilitas masyarakat.
Destry mengatakan, kerja sama pembayaran lintas negara tersebut juga mencerminkan upaya Timor-Leste mengembangkan kapasitas ekonominya. Ia menyebut Timor-Leste memiliki jumlah penduduk sekitar 1,5 juta jiwa. Negara tersebut juga mengirim anak muda untuk belajar di Indonesia, termasuk dalam bidang teknologi.
“Ini menggambarkan bahwa negara Timor Leste dengan penduduk hanya 1,5 juta jiwa punya niat untuk maju,” katanya. Destry menilai Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dan kekayaan alam yang besar juga memiliki potensi ekonomi yang perlu dikembangkan melalui kerja sama.
Daerah Destry mengatakan BI tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kerja sama diperlukan dengan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta akademisi.
Destry juga mengapresiasi pelaksanaan FCE 2026 di Kupang yang melibatkan masyarakat NTT dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Ini bukan acara Bank Indonesia saja, tetapi acara bersama, acara seluruh masyarakat Provinsi NTT yang berbatasan dengan negara Timor Leste,” ujar Destry.
FCE 2026 merupakan kerja sama Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT dan Pemerintah Provinsi NTT. Kegiatan tersebut berlangsung pada 2-4 Oktober 2026 di Lippo Plaza Mall Kupang. Sejumlah pelaku UMKM, pengusaha tenun ikat khas NTT, pelaku usaha kopi, dan pengusaha sektor ekonomi kreatif turut mengikuti kegiatan tersebut. (rn/jh. Foto: Dok. BI)


