BusinessUpdate – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menyatakan produksi aluminium perusahaan saat ini berstatus hijau dan telah mendapat sertifikasi serta diterima pasar.
“Inalum adalah produsen aluminium green di Indonesia hari ini, dianggap green itu kalau emisi karbon di bawah 4 ton CO2 per ton aluminium,” kata Arif Haendra, Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Menurut Arif, Inalum telah mengantongi sertifikat hijau karena emisi karbon dari produksi aluminium berada di bawah 4 ton CO2 per ton aluminium, yakni sekitar 2,8-2,9 ton.
Menurutnya, setiap pengiriman produk kepada pembeli disertai sertifikasi hijau sebagai bagian dari upaya perusahaan memasarkan produk aluminium yang dihasilkan. “Inalum itu 2,8 sampai 2,9. Kemarin kita meluncurkan sertifikat green dan diterima sangat baik oleh market,” ujarnya.
Arif memastikan Inalum akan mempertahankan status hijau produksi di Kuala Tanjung dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan selain pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Ia menjelaskan perusahaan akan menjajaki pemanfaatan sumber energi terbarukan lain di Sumatera Utara, termasuk potensi pembangkit listrik tenaga air di luar aliran Sungai Asahan. “Kita akan memanfaatkan, kalau kita akan menggunakan jaringan PLN kita akan menggunakan renewable energy certificate (REC) dari PLN,” jelasnya.
Arif menambahkan Inalum tengah menjajaki kerja sama lanjutan dengan PT PLN untuk memanfaatkan energi dari perusahaan listrik tersebut. Menurutnya, pembahasan terkait tarif masih dapat dilakukan lebih lanjut dengan mengedepankan kesepakatan yang saling menguntungkan.
“Sepanjang semua itu win-win solution mengapa tidak. Sehingga kita sangat terbuka, sangat berharap mendapat dukungan dari PLN untuk renewable energy ini,” tutupnya. (pa/jh. Foto: Dok. Inalum)


