BusinessUpdate – Indonesia Resources Studies (IRESS) meminta pemerintah memprioritaskan pasokan batu bara kalori menengah dan tinggi untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN sebelum batu bara tersebut diekspor.
Langkah ini diperlukan untuk menjamin ketersediaan batu bara yang sesuai dengan kebutuhan pembangkit listrik di dalam negeri karena cadangan batu bara dengan kalori menengah dan tinggi (medium rank coal/MRC dan high rank coal/HRC) di Indonesia relatif terbatas.
Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara mengatakan, banyak PLTU masih membutuhkan batu bara dengan spesifikasi tersebut untuk menjaga keandalan pasokan listrik.
“Kebijakan tersebut dibutuhkan karena cadangan stok batu bara kalori menengah dan tinggi (medium rank coal/MRC dan high rank coal/HRC) dalam negeri terbatas, sementara banyak PLTU masih membutuhkan spesifikasi tersebut,” kata Marwan dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Menurut Marwan, batu bara berkalori sekitar 6.000 kilokalori per kilogram (kcal/kg) berdasarkan ukuran Gross As Received (GAR) hanya mencakup sekitar 5% dari cadangan nasional. Sementara itu, batu bara dengan kalori 5.000 GAR memiliki porsi sekitar 8%. Sebaliknya, batu bara dengan kalori 4.200 GAR mendominasi cadangan nasional dengan porsi sekitar 73%.
GAR merupakan ukuran nilai kalor atau kandungan panas batu bara yang dihitung berdasarkan kondisi saat batu bara diterima, termasuk seluruh kandungan airnya (total moisture). Marwan mengatakan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga mengakui kualitas batu bara nasional terus menurun seiring menipisnya cadangan batu bara berkalori tinggi.
Menurut IRESS, persoalan kualitas batu bara turut mencuat ketika terjadi pemadaman bergilir di Jawa pada Juni 2026. Saat itu, pemerintah akhirnya mengakui PLN membutuhkan batu bara berkalori menengah untuk keperluan pencampuran atau blending.
Kondisi tersebut kemudian mendorong Kementerian ESDM memberikan penugasan khusus tambahan pasokan batu bara sebanyak 16,8 juta ton dengan kalori di atas 4.500 kcal/kg kepada PLN hingga Desember 2026. Penugasan itu ditujukan untuk mengatasi kendala pasokan batu bara di PLTU sekaligus mencegah terjadinya pemadaman bergilir.
IRESS menilai pemenuhan kebutuhan batu bara untuk pembangkit tidak cukup hanya dihitung berdasarkan jumlah tonase. Spesifikasi kalori juga perlu diperhitungkan agar batu bara yang tersedia sesuai dengan kebutuhan operasional pembangkit. (ip/jh. Foto: Dok. Bukit Asam)


