HomePROPERTYPelindo Tingkatkan Kapasitas Makassar New Port Sebesar 150 Persen

Pelindo Tingkatkan Kapasitas Makassar New Port Sebesar 150 Persen

BusinessUpdate – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo meningkatkan kapasitas Makassar New Port dari 1 juta TEUs menjadi 2,5 juta TEUs atau naik 150% seiring dengan selesainya pembangunan tahap 1B dan 1C. 

Pembangunan Tahap 1B dan 1C dilakukan karena Makassar New Port Tahap 1A atau Terminal Peti Kemas New Makassar (Terminal 2) saat ini juga sudah mencapai titik optimum. 

Regional Head 4 Pelindo Enriany Muis mengatakan, Terminal Peti Kemas New Makassar (Terminal 2) kerap mencatat capaian kegiatan bongkar muat rata-rata di atas 100%. 

“Capaian arus bongkar muat barang pada November 2023 misalnya, mencapai 121,3% dibandingkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2023,” ujarnya melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (7/1/2024). 

Pada 2023, awalnya Pelindo Regional 4 menetapkan RKAP arus bongkar muat sebesar 193.287 TEUs. Tetapi melihat lonjakan bongkar muat di awal-awal 2023, Pelindo lalu menaikkan target dalam RKAP Perubahan 2023 menjadi 212.675 TEUs. “Sampai November 2023, arus bongkar muat di Makassar New Port sudah menembus 257.981 TEUs,” katanya. 

Menurutnya, capaian ini juga didukung transformasi dan standardisasi operasional pasca Pelindo Merger pada 1 Oktober 2021. Saat ini, di luar Makassar, sejumlah pelabuhan di Indonesia Timur, seperti Ambon dan Sorong, sudah menetapkan waktu operasional tujuh hari selama 24 jam dalam seminggu. 

Di Makassar New Port, waktu sandar kapal di pelabuhan (port stay) sekarang maksimal 24 jam dari sebelumnya 48 jam. Produktivitas bongkar muat di pelabuhan ini juga naik dari sebelum merger rata-rata sebesar 20 BSH (box per ship per hour) menjadi rata-rata 34 BSH. “Peningkatan produktivitas dan kecepatan layanan inilah yang membuat capaian Pelindo Regional 4 mengkilap,” tuturnya. 

Sebagai informasi, Makassar New Port dibangun karena terminal peti kemas di Pelabuhan Soekarno Hatta yang berkapasitas 700 ribu TEUs sudah optimal. Sebab jika tidak ada penambahan kapasitas atau pembangunan pelabuhan baru, Soekarno-Hatta bakal menghadapi kongesti pada 2029. (pa/jh)

Must Read