BusinessUpdate – Kabar menggembirakan bagi penderita diabetes yang menyukai coklat. Seorang peneliti Indonesia tengah mengembangkan coklat probiotik yang diklaim aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Adalah Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ervika Rahayu Novita Herawati yang mengembangkan coklat (theobroma Cacao) aman untuk penderita diabetes.
‘’Mengkonsumsi coklat juga dapat mengontrol gula darah dan melancarkan peredaran darah. Hal ini karena kandungan flavanol di dalam coklat,’’ jelasnya melalui laman resmi BRIN.
Ervika mengatakan selain rasa coklat juga bermanfaat untuk kesehatan, seperti mencegah penyakit jantung, kanker, dan menghambat penuaan dini. Kandungan senyawa flavonoid dalam cokelat memiliki aktivitas antioksidan.
‘’Coklat mengandung kalsium, sehingga bisa menguatkan tulang dan gigi, potassium mengatur tekanan darah, magnesium untuk membantu penyerapan kalsium. Sedangkan asam phenylethylamine dapat merangsang otak untuk mengeluarkan hormon endorfin dan serotonin yang berfungsi sebagai penenang alami untuk relaksasi,’’ paparnya.
Dimulai 2014, Ervika beserta dari Tim dari Kelompok Riset Rekayasa Teknologi Protein Alternatif PRTPP bekerja sama dengan Bank Indonesia KPW Yogyakarta dan Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul dalam melakukan penelitian tanaman coklat.
Tanaman kakao yang diteliti berada di Desa Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, tepatnya di sekitaran Gunung Api Purba Nglanggeran. Sebelumnya para petani coklat di daerah tersebut belum memanfaatkan biji kakao secara maksimal untuk meningkatkan ekonomi.
Menurutnya kualitas coklat di Gunungkidul dapat bersaing jika cara pengolahannya dilakukan dengan benar. Pengolahan coklat sangat kompleks mulai dari awal pengolahan yang disebut hulu kakao sampai dengan proses akhir atau hilir kakao.
“Ketika kita dapat mengontrol pengolahan dari awal sampai akhir, maka sangat menentukan kualitas produk coklat, sehingga pengolahan pascapanen harus dilakukan secara tepat,” ujar Ervika.
Ia mengatakan para petani hanya mengolah coklat sampai pada produk biji kering dan langsung dijual ke pengepul. Para petani juga belum semua menerapkan proses fermentasi dengan tepat,” katanya.
Melihat keterbatasan alat pendukung dan pengetahuan pengolahan biji coklat dari para petani tersebut. Ervika dan tim mulai melakukan pembinaan dan pendampingan bagi petani coklat tersebut, yang terbagi menjadi 3 cluster konsep UKM. Diantaranya pemetikan biji, pengolahan biji, dan versifikasi.
‘’Ketiganya harus saling terkait, jika salah satu hasilnya kurang maksimal akan berpengaruh pada kualitas produknya,’’ jelasnya. Ervika menyebutkan, dalam tahap proses pengolahan biji coklat ini, proses fermentasi inilah yang mempunyai peran penting.
Salah satu kunci utama di proses pengolahan coklat yakni penerapan proses fermentasi. Karena pada proses fermentasi ini akan terbentuk prekursor cita rasa yang berpengaruh di kualitas produk akhir nantinya.
Selain itu, ia dan timnya juga mengembangkan coklat probiotik. Adapun jenis coklat yang digunakan untuk penelitian ini adalah dark coklat. ‘’Dalam proses ini adanya penambahan bakteri asam laktat yang diformulasikan sedemikian rupa serta menggunakan beberapa jenis gula yang aman untuk penderita diabetes,’’ jelas Ervika.
Coklat hasil penelitian ini telah melalui beberapa pengujian di lab, yang meliputi ; analisis fisik, analisis kimia, serta pengujian sensoris untuk menguji cita rasa. Uji sensorik dilakukan oleh beberapa panelis untuk menguji kesukaan sebelum coklat ini diproduksi lebih banyak.
Pengujian menggunakan hewan coba (uji in-vivo) juga telah dilakukan. Hasil pengujian in-vivo menunjukkan terjadi penurunan glukosa darah pada hewan coba (tikus) diabetes yang mengkonsumsi coklat probiotik.
Setelah itu dilanjutkan pengujian kepada manusia. Ervika menyebutkan penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai indeks glikemik yaitu pola kenaikan glukosa darah responden ketika mengkonsumsi suatu makanan.
“Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks glikemik yang rendah pada coklat probiotik, sehingga dapat dikatakan bahwa cokelat hasil penelitian ini aman untuk dikonsumsi penderita diabetes,” tutupnya. (pa/jh)


