BusinessUpdate – Sebagian besar warung kopi (warkop) dia Aceh menerapkan sistem makan dulu bayar belakangan. Mereka ingin merajakan pelanggan.
Jika ada warkop yang meminta pelanggan meminta bayar terlebih dulu, warkop itu akan sepi pengunjung. Masyarakat Aceh sudah terbiasa dengan sistem transaksi seperti itu, apalagi pangsa pasarnya sangat luas. Bukan hanya anak muda, keluarga dan orang-orang tua pun kerap nongkrong di warkop.
“Kalau warkop memang begini sistemnya (makan dulu baru bayar, red.). Yang namanya orang, pembeli ingin dirajakan. Kalau kami budayakan bayar dulu di Aceh, sepi,” ujar Cut Mahathir Firdaus, pemilik warkop BTJ Kupi, dikutip dari Antara, Minggu (22/9/2024).
Soal pembeli curang, Mahatir tak mempersoalkan karena setiap orang pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya kelak di hadapan Tuhan.
“Saya yakin aja, meyakinkan diri 100%. Saya yakin dan percaya karena enggak pernah ngambil punya orang. Kalau (pembeli, red.) tidak bayar, ada lah kedapatan beberapa kali,” ungkap Mahathir.
Kalau ada pembeli nakal, akan dilakukan pengecekan melalui perangkat 13 unit CCTV yang terpasang di warkop itu. Pasti akan ketahuan sosok pembeli yang curang.
Namun, Mahathir tak pernah meminta karyawannya menegur, apalagi melabraknya ketika pembeli itu terlihat datang kembali. Bisa saja memang sedang tidak punya uang, lupa, atau entah sengaja. Biarkan saja, prinsipnya.
“Silakan mau makan sepuasnya. Kalau enggak bayar akan mikir sendiri di akhirat. Karena pasti hidupnya enggak tenang. Enggak berkah,” tegasnya.
Ternyata, warung-warung makan di Banda Aceh juga menerapkan pola serupa. Seperti kedai kari kambing di ujung Pasar Aceh yang pembelinya nyaris tak pernah berhenti, datang silih berganti.
Bahkan, di warung itu malah tak ada model pesan menu. Pembeli tinggal ambil sendiri nasi dan lauk apa saja yang dipilih, barulah minuman yang memesan.
Selesai makan, pembeli disuruh mengingat-ingat sendiri makanan dan minuman yang telah dipesan, kemudian dihitung kasir dan bayar, selesai.
Pembeli curang selalu ada, tetapi hanya satu-dua orang. Selebihnya, jujur. Buktinya, sistem pembayaran model begitu masih dipertahankan di mayoritas kedai kopi di Aceh. (pa/jh. Foto: Antara/Zuhdiar Laeis)


