HomeCORPORATE UPDATEKetidakpastian Ekonomi, Proyeksi Ekonomi Digital Asia Tenggara Dipangkas, Semoga Indonesia Sebuah Perkecualian

Ketidakpastian Ekonomi, Proyeksi Ekonomi Digital Asia Tenggara Dipangkas, Semoga Indonesia Sebuah Perkecualian

BusinessUpdate– Ketidakpastian ekonomi dan tekanan terhadap perusahaan teknologi diperkirakan akan memangkas proyeksi ekonomi digital negara-negara di Asia Tenggara dipangkas dari semula US$363 miliar menjadi hanya US$330 miliar pada 2025 mendatang.

Namun diharapkan tren positif ekonomi digital Indonesia pada tahun 2021 masih terus berlanjut. Tren positif perkembangan ekonomi digital juga sejalan dengan perkembangan investasi. Hasil studi Google, Temasek, Bain & Company (2021) menunjukan bahwa nilai investasi ekonomi digital Indonesia sepanjang Q1-2021 sebesar 4,7 miliar USD dan telah melampaui nilai tertinggi selama empat tahun terakhir. Capaian tersebut menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi terpopuler di Asia Tenggara, melampaui Singapura.

Selain investasi, Indonesia juga memiliki berbagai potensi yang dapat memperkuat peluang akselerasi perkembangan ekonomi digital. Pada tahun 2021 nilai transaksi e-commerce Indonesia berhasil mencapai Rp401,25 Triliun, dengan volume transaksi sebesar 1,73 milliar.

Berdasarkan kondisi terkini investor Singapura, yakni Temasek Holdings dan Bain & Company, dilansir dari laporan tahunan Google Alphabet yang dikutip cnnindonesia.com menilai proyeksi ini lebih rendah lantaran ketidakpastian ekonomi, dan tekanan pada perusahaan teknologi dalam mencari keuntungan.

“Di tengah tantangan ekonomi makro global, pendapatan yang berkurang, harga-harga yang meroket, dan ketersediaan produk yang lebih rendah, ada penurunan permintaan dari konsumen Asia Tenggara,” ungkap investor dalam sebuah rilis bersama, dikutip dari CNA, Kamis (27/10).

Kawasan 11 negara di Asia Tenggara ialah pasar digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Populasi pemuda, penggunaan gadget, meluasnya urbanisasi, termasuk kelas menengah yang berkembang menjadi faktor pendukung.

Indonesia, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Filipina masuk dalam laporan tersebut. Enam negara tersebut diklaim masih optimis melihat ekonomi digital tumbuh 20 persen menjadi US$ 200 miliar, tiga tahun lebih cepat dari yang diantisipasi dalam laporan perdana pada 2016.

Keenam negara tersebut diprediksi membukukan pertumbuhan dua digit dari sekarang hingga 2025 nanti. Vietnam akan merajai proyeksi ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat pada tahun ini sebesar 28 persen.

Sementara, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi digital 22 persen menjadi US$ 77 miliar pada tahun ini. Catatan tersebut berkontribusi sekitar 40 persen dari total belanja online di Asia Tenggara.

Investor global memang semakin berhati-hati di tengah kenaikan suku bunga dan jatuhnya valuasi saham. Kendati demikian, sektor jasa keuangan digital diperkirakan menyalip e-commerce dalam investasi teratas di kawasan.

Dalam laporan tersebut, dijelaskan Vietnam, Indonesia, dan Filipina bakal menarik lebih banyak investor dalam jangka panjang.

“Secara umum, investor umumnya mengharapkan aktivitas kesepakatan pulih mulai 2024 dan seterusnya,” terang Deputy Head of Technology & Consumer and Southeast Asia. (ed/spm)

Must Read