BusinessUpdate – Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si. resmi mematenkan karyanya dua motif batik khas Sragen.
Dua motif batik yang Prof. Izza patenkan bernama Bimantara dan Abhipraya. Kedua motif batik tersebut ia desain khusus dengan mengangkat kekayaan alam Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Pembuatan batik ini merupakah salah satu agenda dari pelaksanaan Matching Fund Kedaireka yang ia jalankan. Tahun ini Prof. Izza dan tim dinyatakan lolos pendanaan Kedaireka dengan nilai lebih dari Rp1 miliar sekaligus menjadi yang tertinggi di UNS.
“Kalau Kedaireka ini agak lebih luwes ya. Batik itu hanya salah satu. Kedaireka kita mempunyai beberapa aktivitas. Yang pertama ada pelatihan. Kemarin termasuk pelatihan bagaimana achievement motivation, business model canvas , digital marketing . Mereka kami ajari hal-hal simpel seperti Canva agar mereka bisa membuat marketing secara digital,” ujarnya.
Motif batik pertama yang baru saja ia patenkan bernama Bimantara. Motif batik tersebut dikhususkan untuk memutihkan legenda yang ada di Gunung Kemukus. Dia menjelaskan bahwa Gunung Kemukus selama ini mendapat stigma negatif di masyarakat karena ada ritual pesugihan dengan cara-cara tidak senonoh dipraktikkan di sana. Padahal jika ditilik lebih lanjut, Gunung Kemukus memiliki sejarah panjang tentang penyebaran agama Islam.
“Kemarin tujuan Kedaireka itu salah satunya adalah pemutihan untuk sejarah Pangeran Samudra. Saya sudah pernah bercerita sebelumnya bahwa ada hal-hal yang sifatnya negatif sehingga akan kita putihkan. Nah, salah satu bentuk yang kelihatan adalah dalam bentuk platform yang kita pakai yaitu baju yang kita pakai. Sekarang kan orang suka pakai batik, jadi kami membuat sebuah batik yang mewakili maksud atau tujuan kami. Bimantara itu artinya jiwa yang hebat. Saya ambil dari bahasa Sansekerta,” jelasnya seperti dikutip rilis Humas UNS.
Sementara itu, motif batik kedua yakni Abhipraya. Berbeda dengan motif Bimantara yang hanya berfokus pada legenda yang ada di Gunung Kemukus. Abhipraya menampung semua kekhasan dari Kabupaten Sragen.
“Kalau ini Abhipraya yang punya arti harapan. Ini sebenarnya bukan asli Gunung Kemukus ya tetapi seluruh wilayah yang ada di Sragen gitu. Jadi Gunung Kemukus hanya salah satu yang syarat makna bahwa di sana itu lambang kesuburan, lambang kemakmuran gitu. Kemudian Gunung Kemukus dilambangkan dengan kesuburan itu padi-padian, kemudian ini adalah aliran air yang kemudian menuju ke Waduk Kedung Ombo. Nah, aliran air ini yang kemudian dinaungi sebagai naungan ekosistem alamnya di sana. Sehingga dengan indahnya bunga, kesuburan tanah, kemudian penjagaan ekosistem nanti diharapkan bisa memberikan harapan sebagai Sragen yang hebat, Sragen yang berdasarkan heritage, ecology, batik, agriculture, kemudian tourism-nya,” jelas profesor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini.
Lebih lanjut ia menambahkan bahwa saat ini batik dengan motif tersebut sudah banyak yang pesan. Pemesan ada pula yang berasal dari luar Sragen. Meskipun demikian, saat ada pesanan, ia akan meminta Unit Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sragen untuk membuatnya sehingga masyarakat Sragen bisa lebih produktif dan berdaya.
Saat ini kedua motif batik tersebut sudah tercatat di Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) milik Prof. Izza dan tim. Dengan demikian, kedua motif tersebut sudah menjadi kuasa penuh dari pemilik HAKI. (ed/spm)


