HomeFIGUREMengenal Richard Theodore Sosok di Balik Sambal Bakar Indonesia

Mengenal Richard Theodore Sosok di Balik Sambal Bakar Indonesia

BusinessUpdate – Jaringan rumah makan Sambal Bakar Indonesia atau SBI yang didirikan pada 2022 oleh Richard Theodore berkembang sangat cepat. Kini, restoran ini membuka lebih dari 22 outlet yang tersebar di berbagai wilayah lokasi di kawasan Jabodetabek, Surabaya, Lampung, dan Bali.

Ia memulai bisnis kuliner ini dengan semangat untuk membuka rumah makan dengan menu makanan khas Indonesia tapi dengan tempat yang nyaman dan bersih.

Mengutip laman resmi SBI, Richard Theodore tak sendiri. Ia bekerja sama dengan Benjamin Master Adhisurya (Iben Ma), seorang yang dikenal sebagai content creator kuliner di TikTok. Beberapa co-founder SBI lainnya antara lain Renaldo Akhira, Bara Al Aziz, Faraz Nazari, dan Daniel Ganesha Surya.

Sambal Bakar mengusung konsep restoran keluarga yang menyajikan berbagai hidangan dengan sambal bakar atau sambak sebagai ciri khas utamanya. Menu andalan SBI antara lain Sambak Ayam, Sambak Udang, Sambak Cumi Asin, Sambak Iga Bakar, Sambak Kulit, dan sebagainya.

Sejak pertama didirikan, Sambal Bakar telah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Dalam waktu dua tahun, pemilik Sambal Bakar berhasil membuka lebih dari 22 outlet di berbagai kota besar di Indonesia. Kesuksesannya tidak lepas dari strategi pemasaran pemilik Sambal Bakar, terutama promosi melalui media sosial.

Dengan memanfaatkan popularitas Iben Ma di TikTok, mereka berhasil menarik perhatian masyarakat dan membangun brand awareness yang kuat. Sambal Bakar Indonesia telah membuktikan bahwa dengan visi yang jelas, strategi pemasaran yang efektif, dan komitmen terhadap kualitas, sebuah bisnis kuliner dapat berkembang pesat dalam waktu singkat.

Seluruh gerai dioperasikan dan dibangun sendiri oleh Richard dan timnya dengan nilai investasi mencapai Rp5 miliar hingga Rp10 miliar per gerainya.

Setiap harinya outlet Sambal Bakar yang didirikan Richard dikunjungi rata-rata 1.000 orang per hari. Tak heran jika resto itu mampu mencatatkan pendapatan rata-rata sebesar Rp1 miliar hingga Rp3 miliar per bulan untuk satu gerai saja.

Berkembang pesatnya Sambal Bakar Indonesia tak lepas dari tangan dingin Richard sebagai CEO. Ia memang sudah sejak kecil bercita-cita ingin menjadi pengusaha sukses.

Bersekolah di SMK jurusan Tata Boga dan melanjutkan kuliah di Universitas Bina Nusantara jurusan manajemen bisnis, Richard kemudian memilih menggeluti usaha food and beverage service.

Bukan tanpa alasan, sebab baginya kuliner merupakan bisnis yang tak akan pernah mati. “Saya basicnya seorang profesional, dulu pernah bekerja di Kawan Lama Group, tepatnya di Ace Hardware. Namun, basic pendidikan saya adalah kuliner dan kuliahnya ambil bisnis di Binus University,” kata Richard.

Menurutnya kuliner adalah bisnis yang tidak bisa mati, karena semua orang butuh makan. Setiap kehidupan butuh konsumsi makanan dan minuman.

Sedangkan, keputusannya memilih bisnis kuliner yang spesifik menyajikan sambal bakar yang dipadukan dengan makanan tradisional Indonesia, seperti ayam goreng, bebek goreng, lele goreng, kulit goreng, hingga telor barendo sangat digemari masyarakat di Tanah Air.

“Karena menurut saya ini konsep yang bagus, sambal di bakar dengan variasi tradisional food menjadi daily konsumsi untuk banyak orang,” jelas Richard. (rn dari berbagai sumber. Foto: IG Richard Theodore)

Must Read