BusinessUpdate – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat angka pemutusan hubungan kerja (PHK) periode Januari-Juni 2025 naik 32,19%, menjadi 42.385 pekerja. Gelombang PHK pada semester I/2025 melonjak drastis dibandingkan periode yang sama 2024, yakni 32.064 pekerja.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Republik Indonesia, Immanuel Ebenezer Gerungan alias Noel mengatakan, kenaikan volume PHK di dalam negeri disebabkan oleh gejolak ekonomi global dan perang tarif antara negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Kondisi tersebut ikut berdampak buruk bagi makro ekonomi nasional. Situasi ini mengharuskan industri membuat efisiensi, termasuk memangkas jumlah pekerjanya. Industri yang paling dominan mengurangi jumlah tenaga kerja adalah sektor manufaktur atau padat karya.
“Jelas manufaktur lah, padat karya itu kan enggak bisa dibohongin. Dampak perang global hari ini, perang tarif ini kan kita nggak bisa menutup mata terhadap kejadian itu,” ujar Noel, dikutp dari Kompas, Senin (28/7/2025).
Menurutnya, lonjakan pengangguran tahun ini tidak semata karena PHK. Noel menyebut tingginya angka pengangguran ikut dikontribusi oleh angka pencari kerja yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Ia memastikan pemerintah terus mengintervensi lewat berbagai program agar angka pengangguran bisa ditekan. “Kita tidak boleh juga seakan-akan bahwa pemerintah sedang tidak melakukan apa-apa. Tapi yang pasti pemerintahan Pak Prabowo sudah melakukan yang terbaik buat bangsa ini, menekan angka pengangguran sampai dibuatlah yang namanya, coba mitigasi kenapa tuh PHK begitu banyak,” tutupnya. (pa/jh)


