HomePROPERTYPengembang Banting Harga Apartemen di Jakarta

Pengembang Banting Harga Apartemen di Jakarta

BusinessUpdate – Pasar properti di Jakarta sedang menghadapi tantangan berat, terutama apartemen. Banyak unit apartemen yang telah rampung namun belum terjual sehingga pengembang harus mencari strategi agar unitnya diminati konsumen.

Menanggapi kondisi ini, Ketua Real Estat Indonesia (REI) Jakarta, Arvin F. Iskandar, mengungkapkan strategi taktis yang sedang dijalankan para pengembang yaitu menjual apartemen dengan harga terjangkau, bahkan diobral hingga Rp11,8 juta per meter persegi.

Ini bukan sekadar diskon biasa, melainkan bagian dari program kolaboratif antara pengembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menyediakan hunian layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Tangguh (MBT).

Arvin menjelaskan, program ini difokuskan pada apartemen yang sudah jadi atau ready stock yang berlokasi di Jakarta. Daripada dibiarkan kosong, unit-unit ini ditawarkan dengan harga maksimal Rp11,8 juta per meter persegi. Dengan harga ini, apartemen vertikal di Jakarta bisa didapatkan dengan harga mulai dari Rp200 juta hingga Rp600 jutaan.

Program ini menargetkan masyarakat dengan KTP DKI Jakarta dan penghasilan maksimal Rp14 juta per bulan. Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perumahan juga akan memfasilitasi skema ini dengan menyediakan dana senilai Rp500 miliar yang disalurkan melalui perbankan.

Para pengembang pun ikut menyubsidi harga jual agar program ini dapat berjalan dengan tahap awal 1.000 unit. “Kami juga membantu subsidi bunga Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), yang kami harapkan tidak melebihi 6% dengan tenor hingga 15 tahun,” ungkap Arvin, dikutip dari Kompas, Senin (11/8/2025). Salah satu apartemen yang akan diobral adalah milik PT Perdana Gapuraprima Tbk yakni GP PLaza, dan MTH Square.

Tak hanya berfokus pada penjualan, REI Jakarta juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk para pengembang, terutama yang menengah ke bawah. Menyadari adanya kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan KPR, KPA, dan kredit komersial pada tahun 2025, REI berencana membawa para anggotanya ke pasar modal.

“Ada lebih dari 50 pengembang potensial yang akan kami ajak untuk IPO atau menerbitkan obligasi,” kata Arvin. Langkah ini bertujuan agar pengembang memiliki akses dana jangka panjang yang lebih stabil, tidak hanya bergantung pada pinjaman bank yang cenderung berjangka pendek. Dengan begitu, proyek-proyek perumahan dapat diselesaikan tanpa hambatan pendanaan.

Untuk memuluskan langkah ini, REI Jakarta juga mendorong adanya indeks properti sebagai acuan bagi investor domestik dan internasional. Arvin optimistis, dengan kolaborasi strategis, pasar modal dan berbagai insentif pemerintah, sektor properti di Jakarta akan memasuki era baru yang lebih dinamis. (pa/jh)

Must Read