BusinessUpdate – Untuk menangani kepadatan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk pemerintah akan melakukan peningkatan kapasitas layanan. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), operator penyeberangan milik negara, siap memperkuat layanan operasional dan infrastruktur untuk mendukung kelancaran arus logistik serta mobilitas masyarakat di koridor penghubung Jawa-Bali.
Langkah tersebut menjadi hasil pertemuan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (15/7/2026). Dalam pertemuan itu, pemerintah menyepakati sejumlah upaya bertahap untuk meningkatkan kapasitas layanan di lintasan tersebut.
“Kepadatan kini tidak hanya terjadi saat musim libur, tetapi juga pada hari-hari biasa. Karena itu, kapasitas layanan harus segera ditingkatkan,” ujar Dudy, melalui siaran pers, Kamis (16/7/2026).
Menurut Dudy, pemerintah telah menyiapkan sejumlah alternatif solusi. Langkah tersebut meliputi pembangunan dan optimalisasi dermaga, peningkatan kapasitas dermaga yang sudah ada, pengoperasian kapal berukuran lebih besar, hingga optimalisasi pelabuhan pendukung seperti Jangkar, Tanjungwangi, serta pemanfaatan Pelabuhan Celukan Bawang di Bali Utara sebagai jalur alternatif pada periode puncak.
Selain itu, ASDP diminta mempercepat penggunaan kapal berkapasitas lebih besar di lintasan Ketapang-Gilimanuk sehingga mengangkut lebih banyak kendaraan dan penumpang dalam setiap perjalanan sehingga waktu tunggu dapat ditekan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah mengatakan pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman antara kementerian dan pemerintah daerah dalam memperkuat konektivitas transportasi nasional. “Pertemuan ini membahas banyak agenda strategis dan menjadi langkah bersama untuk menghadirkan solusi yang lebih komprehensif bagi masyarakat,” kata Khofifah. B
Menindaklanjuti arahan pemerintah, ASDP menyatakan akan mempercepat berbagai langkah operasional sekaligus pengembangan infrastruktur sebagai solusi jangka panjang. Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan, perusahaan telah melakukan koordinasi intensif bersama Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), kepolisian, Gapasdap, INFA, serta asosiasi angkutan logistik untuk memastikan penanganan dilakukan secara terpadu.
“Kami memahami dampak yang dirasakan masyarakat dan pelaku usaha akibat kepadatan di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Karena itu, kami tidak hanya fokus pada penanganan operasional harian, tetapi juga mempercepat penyelesaian akar persoalan melalui penguatan kapasitas layanan dan kolaborasi lintas sektor,” lanjutnya.
Di lapangan, ASDP terus mengoptimalkan pola operasi kapal, memaksimalkan kapasitas armada, menyiapkan kantong parkir tambahan bagi kendaraan logistik agar antrean tidak meluas ke jalan nasional, serta mendorong pengguna jasa membeli tiket lebih awal melalui aplikasi Ferizy untuk mengatur distribusi kedatangan kendaraan ke pelabuhan.
Selain langkah operasional, ASDP juga menyiapkan peningkatan kapasitas Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk melalui pembangunan bertahap tiga pasang movable bridge di Dermaga 1, Dermaga 2, dan Dermaga 3 yang masing-masing berkapasitas 50 ton.
Proyek tersebut ditargetkan rampung pada 2029. Pengembangan itu juga mencakup pembangunan akses penghubung Ketapang-Bulusan untuk memperlancar arus kendaraan menuju pelabuhan. (rn/jh. Foto: Dok. ASDP)


