BusinessUpdate – Pasar properti di Indonesia terjadi perlambatan. Laporan terbaru dari Bank Indonesia (BI), penjualan rumah tipe besar mengalami penurunan drastis hingga 14,95% secara tahunan (yoy) pada kuartal II/2025.
Dikutip dari laman BI, Selasa (2/9/2025), angka penjualan ini jauh berbeda dari kuartal sebelumnya di mana masih menunjukkan positif. Meskipun secara keseluruhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) masih tumbuh, lajunya melambat.
Ini menunjukkan adanya pergeseran sentimen pasar, di mana konsumen kini lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk membeli properti dengan nilai investasi besar.
Menurut data BI, penjualan unit properti residensial di pasar primer secara keseluruhan mengalami kontraksi sebesar 3,80% (yoy). Untuk rumah tipe besar penjualannya turun 14,95%. Angka ini mencerminkan kehati-hatian investor dan konsumen kelas atas.
Sedangkan, rumah tipe menengah juga mengalami kontraksi sebesar 11,28%. Berbeda dengan tipe lainnya, penjualan rumah tipe kecil tetap menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,48%. Tren ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat untuk properti yang lebih terjangkau masih tetap kuat, bahkan di tengah perlambatan pasar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, meskipun penjualan mengalami tekanan, sektor ini masih didukung oleh sumber pembiayaan yang kokoh. “Sebagian besar pengembang, atau sekitar 78,36%, masih mengandalkan dana internal untuk membangun proyek mereka,” ujar Denny.
Sementara itu, konsumen didominasi oleh pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), yang mencakup 73,06% dari total pembelian. Perlambatan penjualan rumah tipe besar dan menengah ini menjadi tantangan bagi pengembang. Namun, kuatnya pasar KPR dan pertumbuhan penjualan rumah tipe kecil dapat menjadi strategi kunci untuk tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan ini. (pa/jh)


