BusinessUpdate – PT PLN Indonesia Power menghadirkan program inovatif yakni Eko-Eduwisata Berbasis Konservasi Penyu Pantai Lowita atau Ewako Lowita di Pantai Lowita, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan program tersebut merupakan wujud nyata transformasi sosial dan lingkungan berbasis komunitas dari perusahaan.
“Program ini menjadikan konservasi penyu bukan sekadar upaya pelestarian, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi lokal, edukasi generasi muda, dan pemberdayaan kelompok rentan,” ujar Bernadus Sudarmanta melalui keteranga resmi, Kamis (4/9/2025).
Pantai Lowita, yang sebelumnya menghadapi tantangan serius seperti perburuan telur penyu, degradasi habitat, dan timbunan sampah pesisir hingga 1.890 kilogram per bulan, kini bertransformasi menjadi pusat konservasi dan wisata edukatif yang inklusif.
Menurut Bernadus, melalui pendekatan sistemik dan kolaboratif, masyarakat lokal termasuk pemuda, ibu rumah tangga, dan pelaku UMKM dilibatkan aktif dalam pengelolaan wisata, bank sampah, dan produksi suvenir daur ulang.
Program ini tidak hanya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Pendapatan kelompok pengelola wisata meningkat hingga Rp238,8 juta per tahun dan lebih dari 6.000 telur penyu berhasil ditetaskan setiap tahunnya.
Hasil lainnya adalah penanaman mangrove seluas 7,43 ha mampu menyerap emisi karbon hingga 330.810 ton CO2, menjadikan Ewako Lowita sebagai model konservasi berbasis ekonomi sirkular yang berdampak nyata.
“Kami percaya bahwa energi bukan hanya tentang listrik, tetapi tentang bagaimana kita mengalirkan semangat perubahan ke seluruh penjuru negeri. Ewako Lowita adalah bukti bahwa konservasi bisa menjadi gerakan sosial, ekonomi, dan edukatif yang menyatu dalam satu ekosistem,” ujarnya.
Bernadus menambahkan PLN Indonesia Power tidak hanya berfokus pada keandalan pembangkit, tetapi juga pada keberlanjutan sosial dan lingkungan.
Melalui program Tamasya atau Taman Asuh Sayang Anak, PLN IP juga menjajaki kolaborasi dengan BKKBN untuk mendukung tumbuh kembang anak di wilayah pesisir, memperkuat dimensi kesejahteraan dalam program konservasi. Program Ewako Lowita telah menciptakan perubahan perilaku yang sistemik dan signifikan.
“Masyarakat kini aktif melaporkan dan melindungi sarang penyu, wisatawan ikut membiayai konservasi melalui tiket dan donasi, UMKM lokal memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai,” ujarnya. Lalu, terciptanya pula edukasi lingkungan yang menjangkau lebih dari 4.500 pengunjung per tahun.
Saat ini, 15 warga lokal telah bekerja sebagai tim konservasi dan edukator. Program ini juga memperkenalkan inovasi seperti pemanfaatan FABA (fly ash bottom ash) sebagai material rumah penetasan, sistem monitoring suhu inkubator, dan panel surya mini untuk fasilitas konservasi. “Semua ini dilakukan dengan prinsip efisiensi energi dan keberlanjutan,” ucapnya.
Dengan roadmap selama lima tahun yang mencakup pembangunan balai edukasi, festival penyu, sertifikasi desa wisata, dan replikasi ke pantai lain di Barru, Ewako Lowita siap menjadi model nasional. (pa/jh. Foto: Dok. PLN IP)


