BusinessUpdate – Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengungkapkan pemerintah masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta mulai menyiapkan sejumlah skenario seiring kenaikan harga minyak global imbas konflik.
Adapun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap fasilitas di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Konflik itu menciptakan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan minyak global. Ini terutama terkait ancaman penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur ekspor minyak strategis dunia.
Saat ini, ketidakpastian efek dari konflik itu masih cukup tinggi. Oleh karena itu, pemerintah masih akan mencermati perkembangannya hingga 1 pekan ke depan.
“Kita harus lihat dalam beberapa minggu ke depan ya, terutama seminggu ke depan ini ya, bagaimana eskalasinya di sana. Kalau ini bisa selesai cepat, harusnya dampak ke sektor energinya mungkin akan limited,” kata Seto di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Sebagai informasi, harga minyak dunia melonjak usai serangan Israel dan AS. Tercatat, harga minyak Brent melonjak hingga 13% ke level sekitar US$82 per barel. Dilansir Bloomberg pada Senin (2/3/2026) minyak Brent untuk kontrak Mei melompat 12% ke level US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi waktu Singapura.
Seto menilai, jika konflik bisa selesai lebih cepat, maka kenaikan harga minyak itu tidak akan berlanjut signifikan. Sebaliknya, jika konflik berlarut, maka harga minyak bakal terus melambung.
Ia menilai efek kenaikan harga minyak global itu dialami oleh seluruh negara. Namun, Seto memastikan pihaknya mulai menyiapkan sejumlah skenario. Salah satu strategi yang diambil Presiden Prabowo Subianto adalah dengan mengurangi ketergantungan pada impor.
“Kita sudah coba untuk mengurangi dependensi terhadap impor ya. Jadi salah satunya [produksi] biodiesel, kebijakan, dan segala macam. Saya kira itu sudah satu langkah mitigasi ya. Jadi kita coba kurangi dependensi terhadap minyak,” tutur Seto.
Kendati demikian, Seto tak menampik jika Selat Hormuz ditutup, efek ke pasokan dan harga minyak global bakal semakin runyam. “Kalau nanti eskalasinya terus, Selat Hormuz-nya ditutup, ya mungkin itu akan cukup problematik lah. Tapi ya tadi saya bilang, kita sabar, kita lihat satu minggu ke depan, ya mudah-mudahan kita doakan ini bisa cepat selesai,” tutup Seto. (ip/jh. Foto: Dok. Pertamina)


