BusinessUpdate – PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp2,3 triliun pada kuartal I/2026 (unaudited). Kinerja laba ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang stabil serta kontribusi fee-based income yang meningkat.
Presiden Direktur dan CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan kinerja awal tahun tersebut didukung oleh pengelolaan biaya yang disiplin, pertumbuhan kredit yang selektif, serta struktur pendanaan yang kuat.
Rasio dana murah atau current account savings account (CASA) tercatat mencapai 73,9%. Jumlah ini sekaligus menjadi yang tertinggi bagi perseroan. “Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di bawah rata-rata industri dan biaya kredit di bawah 1%,” ujar Lani dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Dari sisi permodalan dan likuiditas, CIMB Niaga mencatat capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,3% dan loan to deposit ratio (LDR) 89,2%. Total aset konsolidasian mencapai Rp368,2 triliun per akhir Maret 2026, memperkuat posisi perseroan sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 2,3% secara tahunan menjadi Rp260,1 triliun yang didorong oleh peningkatan CASA sebesar 12,2% menjadi Rp192,3 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit naik 2,2% menjadi Rp235,1 triliun.
Secara sektoral, pertumbuhan kredit tertinggi berasal dari segmen korporasi yang meningkat 4,8%, diikuti usaha kecil dan menengah (UKM) 1,2%, serta consumer banking 0,2%. Pada segmen ritel, pertumbuhan terutama ditopang oleh kredit pemilikan mobil yang naik 4%.
Di lini syariah, Unit Usaha Syariah CIMB Niaga mempertahankan posisinya sebagai yang terbesar di Indonesia dengan pembiayaan Rp52,9 triliun dan DPK Rp45 triliun. Perseroan juga memperkuat pendanaan berbasis dana murah melalui komunitas dan kemitraan strategis syariah.
Sementara itu, pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp60,2 triliun atau sekitar 26% dari total portofolio. Dari jumlah tersebut, pembiayaan kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp25,7 triliun atau sekitar 43%.
Transformasi digital menjadi salah satu pendorong utama kinerja. CIMB Niaga mencatat 90,6% transaksi nasabah telah dilakukan melalui kanal non-cabang, termasuk aplikasi OCTO, OCTOBIZ, ATM, dan OCTO Pay. Perseroan juga mengembangkan konsep Digital Branch dan Digital Hub untuk mengintegrasikan layanan fisik dan digital.
Hingga akhir Maret 2026, CIMB Niaga mengoperasikan 35 Digital Branch dan 38 Digital Hub di berbagai wilayah. Transaksi melalui aplikasi OCTO meningkat 29% pada kuartal I/2026. Selain itu, perseroan meluncurkan OCTOBIZ sebagai platform digital terintegrasi untuk nasabah bisnis dalam mengelola transaksi domestik dan internasional.
Untuk memperkuat layanan nasabah, CIMB Niaga juga menghadirkan layanan contact center ASK OCTO yang dapat diakses 24 jam melalui berbagai kanal, termasuk panggilan WhatsApp. Ke depan, perseroan menargetkan pertumbuhan yang lebih berkualitas dengan menjaga margin melalui penguatan CASA serta memperluas fee-based income, sejalan dengan strategi Forward30. (ip/jh. Foto: Dok. CIMB)


