BusinessUpdate – Kinerja sektor perhotelan di Bali pada kaurtal I/2026 mengalami penurunan 10% dibandingkan pada kinerja kuartal IV/2025. Penurunan ini disebabkan oleh persilangan variabel eksternal dan internal. Kondisi ini memaksa para operator hotel untuk memutar kemudi strategi secara lebih lincah.
Senior Associate Director Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan pariwisata Bali sedang diuji oleh melambatnya arus kunjungan domestik serta kelesuan aktivitas Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE).
Pengetatan anggaran pada institusi pemerintah dan entitas korporasi menjadi faktor pemicu utama di balik sunyinya ruang-ruang pertemuan yang pada tahun-tahun sebelumnya menjadi tulang punggung okupansi.
Selain itu, gejolak di Timur Tengah memberikan imbas yang tak terelakkan terhadap konektivitas udara global. Bali, sebagai destinasi yang sangat bergantung pada aksesibilitas penerbangan, mulai merasakan dampak nyata dari pembatalan dan perubahan rute perjalanan.
Pasar tradisional dari Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah mencatat penurunan signifikan. Data menunjukkan estimasi kemerosotan kunjungan dari wilayah-wilayah tersebut berada di kisaran 30% hingga 40% secara tahunan.
“Hotel yang lini bisnis utamanya bersandar pada wisatawan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat telah mencatat penurunan kinerja hingga 10%, jika dikomparasikan dengan kuartal IV tahun 2025,” ungkap Ferry, dikutip dari Kompas, Senin (4/5/2026).
Statistik dan Proyeksi Ferry menuturkan, meskipun dihantam ketidakpastian global, Bali tetap menjadi magnet investasi bagi aset hospitality kelas atas.
Ferry memprediksi, rata-rata Okupansi (AOR) diproyeksikan tumbuh perlahan di kisaran 62% hingga 66% sepanjang 2026. Tarif Kamar Rata-rata (ARR), bertahan di angka US$145 hingga US$155 atau sekitar Rp2,44 juta hingga Rp2,61 juta.
Stabilitas tarif ini didorong oleh segmen wisatawan mancanegara yang memiliki daya beli tinggi, meskipun jumlah mereka berkurang secara kuantitas.
Penurunan pada kuartal I/2026 juga dipengaruhi oleh periode Ramadan yang secara historis mereduksi mobilitas wisatawan domestik. Pada saat yang sama, Bali harus berkompetisi lebih ketat dengan destinasi di kawasan Asia Pasifik, Jepang dengan daya tarik Yen yang melemah membuat biaya perjalanan lebih kompetitif.
Kemudian Vietnam dengan kebijakan visa yang fleksibel dan harga yang lebih terjangkau di Da Nang serta Phu Quoc. Sementara Thailand & Korea Selatan, memiliki kekuatan budaya populer dan infrastruktur pariwisata yang agresif.
“Menghadapi potensi “perang harga” akibat kenaikan tarif penerbangan dan penurunan permintaan, operator hotel di Bali mulai mengadopsi kembali praktik operasional yang tangkas sebagaimana diterapkan pada masa pandemi,” papar Ferry.
Fokus dialihkan kepada segmen yang lebih resilien, yakni pasar Asia Pasifik dan wisatawan domestik yang masih memiliki minat tinggi terhadap destinasi gaya hidup.
“Ke depan, keberhasilan para pelaku industri akan bergantung pada kemampuan mereka dalam memitigasi isu lokal seperti kemacetan lalu lintas dan persaingan dari akomodasi alternatif (villa tidak teregistrasi), sembari terus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi pernikahan internasional yang tak tertandingi,” tutup Ferry. (ip/jh. Foto: Do. Antara)


