BusinessUpdate – PT Buana Finance Tbk (BBLD) bakal masuk ke bisnis syariah dengan penambahan Unit Usaha Syariah (UUS) di Perseroan. Penambahan kegiatan usaha ini adalah hasil dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 yang diselenggarakan pada Senin (18/5/2026).
Direktur Pemasaran Buana Finance Herman Lesmana mengatakan potensi pembiayaan berbasis syariah memiliki potensi yang sangat besar, mengingat hingga kini inklusi keuangan syariah baru 12%.
“Tapi opportunity-nya cukup besar karena kalau dilihat dari nasional itu Rp40 triliunan market-nya, sehingga kami ambil opportunity untuk mengembangkan Unit Usaha Syariah di sini,” ungkapnya dalam Public Expose yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Herman meneruskan, sejauh ini pihaknya masih menunggu izin dari regulator ihwal resminya pengangkatan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Jika ini berjalan lancar, UUS Buana Finance kemungkinan bisa beroperasi di sekitar kuartal III/2026.
Khusus untuk UUS, Buana Finance akan membidik segmen B2B atau business to business. Artinya, produk akan dipasarkan dari perusahaan kepada perusahaan lain, bukan perorangan.
Hal ini dilakukan sebagai bagian dari mitigasi risiko dan kualitas pembiayaan tetap terjaga baik. “Sehingga margin yang kami sudah sepakati dengan pelanggan syariah itu adalah memang sudah disepakati dari awal. Harga perolehan plus margin, jadi marginnya itu juga terukur dan tidak seperti perusahaan-perusahaan lainnya yang memang memberikan yang sangat tinggi. Kami memberikan tentunya realistis, relevan, dan juga terukur,” jelas Herman.
Adapun, produk utama yang akan fokus digarap di UUS Buana Finance adalah lini usaha yang belum banyak digarap pelaku lain. Jika perusahaan lain menjalankan skema murabahah dan mudharabah, pihaknya akan memprioritaskan pembiayaan perjalanan Umrah sebagai strategi untuk meningkatkan jumlah jemaah yang nantinya berpotensi berlanjut ke ibadah Haji.
“Umrah ini kami akan bidik secara B2B, yang memang akan terjaga mitigasi risikonya karena memang dia sudah menduduki level yang cukup middle, kemudian dia punya service year-nya juga cukup waktunya misalnya sudah 5 tahun di perusahaan tersebut. Nah, tenornya juga yang kami berikan memang maksimal misalnya 1 atau 2 tahun dengan melihat skala daripada perusahaan tersebut,” jelas Herman.
Sementara itu, Direktur Keuangan Buana Finance Mariana Setyadi menekankan bahwa pembiayaan UUS ini nantinya akan berpusat di wilayah Jakarta terlebih dahulu. “Jadi, portofolio kami mungkin besarnya itu di Medan, Jambi, Pekanbaru. Sementara itu, yang pembiayaan Buana Finance untuk syariah akan berpusat di Jakarta dahulu,” kata Mariana.
Sebagai informasi, Buana Finance mencatat penyaluran pembiayaan baru sepanjang 2025 sebesar Rp3,11 triliun, sementara di segmen sewa pembiayaan dan anjak piutang sebesar Rp1,18 triliun. Kemudian, aset Perseroan tumbuh 7,72% secara tahunan (yoy) menjadi Rp512,22 miliar.
Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan piutang pembiayaan 7,05% menjadi Rp6,57 triliun. Kontribusi terbesar aset berasal dari piutang pembiayaan konsumen sebesar 79,20%, diikuti piutang sewa pembiayaan dan anjak piutang dengan kontribusi sebesar 12,71%.
Adapun, laba bersih perusahaan sepanjang 2025 tercatat sebesar 13,48 miliar. Kemudian, NPF-nya tercatat 3,12%, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang sebesar 1,97%. (pa/jh. Foto: Dok. Buana Finance)


