BusinessUpdate – Pusat Riset Hortikultura Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengembangkan teknologi produksi benih bawang putih sehat dan bermutu dalam Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS).
Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN sekaligus penanggung jawab PRIS bawang putih, Dwinita Wikan Utami, menjelaskan bahwa teknologi produksi benih sehat diperlukan agar keunggulan varietas hasil pemuliaan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
“Kita memerlukan teknologi eliminasi virus yang efektif, mudah diterapkan, dan terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh produsen benih maupun petani untuk menjaga mutu bahan tanam,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Riset ini berfokus pada eliminasi virus yang terbawa pada bahan tanam bawang putih. Untuk itu, BRIN mengembangkan metode eliminasi virus, merancang prototipe alat eliminasi virus, serta menguji pengaruh perlakuan tersebut terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Pengembangan teknologi ini diharapkan mendukung peningkatan produksi bawang putih nasional sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor. Dalam penelitian ini, tim peneliti juga mengidentifikasi keberadaan virus pada bahan tanam bawang putih.
Pakar virologi tumbuhan Fakultas Pertanian UGM, Sedyo Hartono, menjelaskan bahwa hasil pengujian UGM mendeteksi infeksi ganda Onion yellow dwarf virus (OYDV) dan Shallot latent virus (SLV) pada sekitar 80% sampel dari Enrekang, Magelang, Temanggung, Tawangmangu, dan Yogyakarta berupa umbi benih, umbi konsumsi, serta daun bergejala maupun tanpa gejala.
“Gejala infeksi virus juga tidak selalu terlihat jelas pada tanaman. Di lapangan, dampaknya dapat tertutupi oleh penyakit lain, terutama penyakit yang disebabkan jamur. Riset lanjutan akan mengukur kemampuan perlakuan dalam menurunkan titer virus sekaligus menilai pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan kerentanan tanaman terhadap penyakit lain,” jelas Sedyo.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa infeksi virus pada bahan tanam merupakan persoalan yang perlu ditangani. Namun, hasil tersebut masih terbatas pada sampel yang diuji sehingga diperlukan survei yang lebih luas untuk memetakan penyebaran virus di berbagai sentra produksi bawang putih.
Riset eliminasi virus direncanakan berlangsung selama dua tahun. Pada tahap awal, penelitian difokuskan pada validasi metode dan pengembangan prototipe alat eliminasi virus skala laboratorium.
Tahap berikutnya akan menguji respons tanaman hasil eliminasi di lapangan sekaligus mendorong pengembangan alat bersama mitra industri agar dapat dimanfaatkan pada skala produsen benih.
Selain mengembangkan teknologi eliminasi virus, PRIS bawang putih juga menargetkan pengembangan varietas bawang putih berumbi besar dari tipe softneck dan hardneck, varietas yang adaptif terhadap dataran menengah, teknologi pematahan dormansi, basis data plasma nutfah berbasis fenotipe dan genotipe, serta standar operasional produksi benih sehat dan bermutu.
Seluruh luaran tersebut akan diuji untuk mendukung pengembangan kawasan bawang putih, termasuk di Kawasan Swasembada Pangan, Air, dan Energi (KSPAE) Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. (pa/jh. Foto: Ilustrasi AI Gemini)


