BusinessUpdate – Kementerian Pariwisata mendorong para pelaku usaha pariwisata, termasuk agen perjalanan dan operator tur, untuk menyediakan paket layanan wisata batik sebagai bagian dari wisata pengalaman yang dapat dinikmati oleh pelancong mancanegara.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan wisatawan dari Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand umumnya tertarik pada batik karena merasakan kedekatan budaya. Mereka juga menyukai kegiatan wisata yang menghadirkan pengalaman mengesankan.
Menurutnya, batik juga bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan dari negara seperti Jepang dan Korea Selatan yang umumnya menghargai keahlian dan menyukai detail.
Selain itu, batik dinilai menarik bagi wisatawan dari negara Eropa seperti Belanda, Jerman, dan Prancis yang menyukai budaya dan slow fashion maupun pelancong dari Amerika dan Australia yang menyukai cerita.
Ia menambahkan, paket layanan pariwisata seperti lokakarya singkat membatik selama dua jam atau tur setengah hari ke pusat produksi batik yang mencakup kegiatan membatik akan menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman budaya lokal.
Penyelenggara layanan wisata juga dapat menawarkan pengalaman tinggal beberapa hari di daerah sentra batik kepada wisatawan dengan melibatkan para perajin batik lokal. Pengenalan dan promosi batik bisa disampaikan kepada para wisatawan yang menggunakan layanan wisata pengalaman semacam itu. “Wisatawan yang paham filosofi akan lebih menghargai harga batik tulis,” kata Ni Made Ayu Marthini, Rabu (30/9/2026).
Kementerian Pariwisata merekomendasikan daerah seperti Pekalongan, Solo, Sragen, Yogyakarta, Cirebon, Madura, dan Jambi sebagai daerah tujuan wisata batik.​​​​​​​ “Wisatawan bisa diajak jalan kaki pelan menyusuri gang kampung, masuk ke rumah perajin satu per satu, lihat canting, pewarnaan, jemuran,” katanya.
Guna mendukung pengembangan layanan pariwisata yang mencakup batik, Kementerian Pariwisata menjadikan batik sebagai bagian dari program Desa Wisata Budaya dan Desa Wisata Batik.
Kampung Batik Kauman dan Laweyan di Solo, Desa Wisata Batik Giriloyo di Yogyakarta, Kampung Batik Pesindon dan Kauman di Pekalongan, Desa Wisata Batik Trusmi di Cirebon, serta Kampung Batik Lasem di Rembang menjadikan batik sebagai daya tarik utama.
Pemerintah menyediakan dukungan berupa pelatihan penyelenggaraan layanan penginapan, pemasaran digital, pembuatan e-katalog, serta penerapan Kebersihan, Keamanan, Kesehatan dan Kelestarian Lingkungan (CHSE) kepada para pengelola desa wisata. Made menyampaikan bahwa Kementerian Pariwisata juga aktif mempromosikan batik baik di dalam maupun luar negeri. (pa/jh)


