HomeCSRPupuk Buatan PGE Bantu Tingkatkan Produksi Panen dan Hemat Biaya

Pupuk Buatan PGE Bantu Tingkatkan Produksi Panen dan Hemat Biaya

BusinessUpdate – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memanfaatkan inovasi pupuk Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert) untuk membantu petani di Kamojang, Kabupaten Bandung, sehingga bisa menghemat biaya pembelian pupuk serta menghasilkan panen yang memuaskan.

Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung berhasil memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan seluas 1,2 hektar yang menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Sementara itu penggunaan pupuk GeO-Fert membantu menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.

“Panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani,” kata Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Minggu (4/10/2026).

Panen tersebut merupakan bagian dari kegiatan HAREPAN atau Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert yang dilaksanakan PGE Area Kamojang bersama masyarakat sepanjang September 2026.

GeO-Fert merupakan pupuk organik yang proses produksinya memanfaatkan ekses uap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang bersuhu sekitar 60-70 derajat Celsius. Pemanfaatan panas tersebut mempercepat pengeringan pupuk organik dari sebelumnya membutuhkan waktu hingga sekitar 14 hari menjadi sekitar 12 jam.

Dalam budidaya kubis tersebut, sekitar 30 ton GeO-Fert diaplikasikan pada lahan seluas 1,2 hektar. Pupuk organik padat diberikan sebelum penanaman, sedangkan pupuk cair digunakan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya. Beberapa kubis yang dipanen mencapai bobot sekitar 6 kilogram (kg) per buah, dibandingkan rata-rata kubis lokal sekitar 3 kg.

Menurut Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni, masyarakat tidak hanya menggunakan pupuk tersebut, tetapi juga terlibat dalam proses produksi dengan memanfaatkan limbah organik yang sebelumnya belum termanfaatkan.

Pengembangan GeO-Fert juga telah diterapkan pada komoditas lain seperti kopi, kentang, cabai, tomat, dan labu siam. Pada April 2026, penerapan GeO-Fert pada budidaya kentang di lahan sekitar 4.200 meter persegi menghasilkan 7.581 kg kentang, dibandingkan sekitar 4.525 kg menggunakan metode konvensional.

Biaya produksi kentang juga turun dari sekitar Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun, atau berkurang sekitar Rp23,5 juta per tahun.

General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan pemanfaatan panas bumi tersebut dikembangkan untuk menghubungkan energi bersih dengan pengelolaan limbah, pertanian, serta kegiatan ekonomi masyarakat sekitar.

GeO-Fert merupakan bagian dari Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang juga diperkuat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri berkapasitas 6,6 kilowatt peak (kWp) dan baterai berkapasitas 20 kilowatt jam (kWh).

Dalam kegiatan HAREPAN, masyarakat Kamojang turut memperkenalkan sejumlah produk pemberdayaan, antara lain keripik hasil bumi dari KWT Srikandi Gayatri Lestari Kamojang dan teh daun kopi dari Kelompok GCP yang dikembangkan menggunakan alat pengering.

Selain itu, Kelompok Budidaya Ikan Mekarjaya Kamojang menghasilkan ikan asin dan pakan ikan yang proses pengeringannya menggunakan Geothermal Dry House.

Kepala Desa Laksana UU Budiman mengatakan masyarakat telah merasakan manfaat penggunaan GeO-Fert dalam kegiatan pertanian. “Alhamdulillah, kami merasakan manfaat yang sangat baik dari pupuk GeO-Fert. Terima kasih kepada PT Pertamina Geothermal Energy yang telah membantu masyarakat Desa Laksana,” ujarnya.

PGE menyebut pemanfaatan panas bumi tersebut menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk memperluas manfaat energi bersih bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW), terdiri atas 727 MW yang dioperasikan langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.

Kapasitas panas bumi di wilayah kerja PGE setara sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional dan disebut memiliki potensi pengurangan emisi sekitar 10 juta ton karbon dioksida per tahun.

Program pemberdayaan tersebut juga diarahkan mendukung penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). (ip/jh. Foto: Dok. PGE)

Must Read