BusinessUpdate – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mempercepat peningkatan kapasitas dermaga di lintasan Ketapang–Gilimanuk untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kendaraan saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027. Jalur ini menghadapi persoalan kemacetan parah yang terus berulang.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan, peningkatan kapasitas menjadi salah satu upaya memperkuat kelancaran layanan, terutama ketika arus kendaraan meningkat sementara kapasitas operasional belum sepenuhnya mampu mengimbangi permintaan.
“Dalam beberapa kejadian pada 2026, antrean kendaraan menuju pelabuhan bahkan sempat mengular hingga belasan kilometer. Peningkatan kapasitas dermaga diperlukan untuk menyesuaikan infrastruktur dengan kebutuhan layanan yang terus berkembang,” ujar Heru di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Pihaknya terus mendorong percepatan pekerjaan agar kedua dermaga dapat beroperasi secara fungsional pada periode Nataru 2026/2027, sehingga kapasitas dan fleksibilitas pelayanan semakin baik dalam mendukung kelancaran perjalanan masyarakat.
Persoalan kepadatan di lintasan Ketapang–Gilimanuk bukan sekadar potensi saat musim liburan. Pada awal September 2026, antrean kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang sempat mencapai belasan kilometer sebelum berangsur terurai menjadi sekitar 4,5 kilometer.
Sementara itu, antrean menuju Pelabuhan Gilimanuk sempat mencapai sekitar 4–5 kilometer. Kepadatan kembali terjadi pada akhir September. Berdasarkan laporan perusahaan angkutan, pada 29 September 2026, antrean di sisi Ketapang tercatat sekitar 8,5 kilometer pada pukul 06.00 WIB, dengan ekor antrean berada di sekitar Pantai Sangkong, Parasputih.
Antrean saat itu didominasi kendaraan logistik. Hal ini menunjukkan bahwa kepadatan penyeberangan tidak hanya berkaitan dengan lonjakan jumlah kendaraan, tetapi juga ketersediaan kapal, frekuensi perjalanan, kapasitas dermaga, dan pengaturan arus kendaraan di darat.
ASDP sebelumnya mencatat, pada periode 30 Agustus–5 September 2026, sebanyak 43.327 kendaraan melintas di Ketapang–Gilimanuk, meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, 176 kapal beroperasi dengan 1.210 perjalanan. Jumlah kapal turun 11% dan frekuensi perjalanan turun 21% secara tahunan.
Heru mengatakan penanganan kepadatan perlu dilakukan secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara permintaan dan kapasitas layanan yang tersedia. “Kepadatan di Ketapang-Gilimanuk tidak dapat dilihat hanya dari sisi jumlah kendaraan maupun kapal. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi kapasitas efektif layanan, khususnya untuk kendaraan logistik,” katanya.
Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terintegrasi, mulai dari stabilisasi operasional hingga penguatan kapasitas infrastruktur dan fasilitas pendukung.
Peningkatan kapasitas dermaga direncanakan berlangsung bertahap pada 2026–2029. Pada tahap pertama, pekerjaan difokuskan pada Dermaga Ponton Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, dan Dermaga II Gilimanuk di Jembrana, Bali. Pekerjaan tersebut telah dimulai sejak Agustus 2026.
Di sisi Ketapang, Dermaga Ponton yang sebelumnya memiliki kapasitas beban 10 ton dan melayani kapal hingga 500 GRT akan dikembangkan menjadi dermaga movable bridge (MB). Setelah ditingkatkan, dermaga tersebut ditargetkan memiliki kapasitas beban 60 ton dan mampu melayani kapal hingga 5.000 GRT.
Sementara itu, Dermaga II Gilimanuk yang sebelumnya memiliki kapasitas beban 30 ton dan melayani kapal hingga 2.000 GRT juga ditingkatkan menjadi berkapasitas beban 60 ton, dengan kemampuan melayani kapal hingga 5.000 GRT. (ip/jh. Foto: Dok. ASDP)


