BusinessUpdate – Sejumlah bank memberi sinyal akan mempertahankan suku bunga tinggi pada 2023 sehingga pemerintah diminta hati-hati karena akan berpengaruh terhadap keuangan negara.
Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR) meminta pemerintah berhati-hati terhadap biaya utang pada 2023, meskipun terdapat modal yang kuat dari baiknya kinerja anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun ini.
Ketua Banggar DPR Said Abdullah mengatakan jika sejumlah bank tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi maka akan berpengaruh bagi Indonesia, baik terhadap suku bunga acuan Bank Indonesia maupun keuangan negara.
Menurutnya, kondisi suku bunga itu akan menyebabkan biaya dana cenderung tertahan di posisi yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus mewaspadai biaya dana utang pada tahun depan yang penuh ketidakpastian.
“Kita tidak boleh lengah, biaya dana bisa lebih tinggi di tengah situasi yang tidak menentu. Penting bagi pemerintah memitigasi dalam menyerap pembiayaan utang pada tahun depan,” ujar Said melalui keterangan resmi pada Kamis (22/12/2022).
Ia menyebut bahwa saat ini imbal hasil surat berharga negara (SBN) terbilang cukup moderat dari negara-negara lain karena berada di sekitar 6% sepanjang tahun ini. Hal tersebut menjadi salah satu modal baik bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi pada tahun depan.
Modal Indonesia lainnya, tambah Said, adalah inflasi yang berada di 5,42% pada November 2022. Posisinya lebih rendah dari sejumlah negara, seperti tetangga di Asia Tenggara yakni Thailand (5,6%), Filipina (8%), dan Singapura (7,5%).
Defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) terhadap produk domestik bruto (PDB) pun lebih rendah dari rencana awal. Target defisit APBN 2022 adalah maksimal 4,5%, tetapi pada November 2022 realisasinya berada di 1,22% terhadap PDB.
“Sejumlah lembaga internasional juga menempatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sangat baik. IMF memperkirakan ekonomi kita tumbuh 5,3%, Bank Dunia 5,2%, ADB 5,4%, Bloomberg 5,3%. Artinya kita optimistis ekonomi tahun ini tumbuh di atas 5%,” jelas Said. (rn/jh)


