BusinessUpdate – Dana sekitar Rp9 trilun hasil initial public offering (IPO) akan digunakan oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) untuk pengembangan usaha dan melunasi sejumlah utang.
Corporate Secretary PGEO Muhammad Baron mengatakan, dana yang diperoleh dari IPO dialokasikan untuk pengembangan usaha sebesar 85% dan sekitar 15% akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang.
“Pendanaan dari pasar modal melalui IPO diharapkan dapat mendukung percepatan pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi,” kata Baron dalam keterangan pers, dikutip Rabu (22/3/2023).
Sebagai salah satu pengembang energi panas bumi terbesar di dunia, PGEO yang memiliki pengalaman puluhan tahun berambisi untuk meningkatkan kapasitas listrik sebanyak 600 MW dalam lima tahun ke depan.
Salah satu yang sedang dilakukan adalah rencana penambahan kapasitas terpasang panas bumi sebesar 55 MW di salah satu area operasi PGEO di Lumut Balai, Sumatera Selatan, yang ditarget selesai pada 2024.
Adapun, per September 2022, PGEO memiliki nilai kas dan setara kas sebesar US$230 juta yang bertambah sekitar US$105 juta dari saldo kas per 31 Desember 2021.
Hal ini menunjukkan PGEO mampu mengelola kas dengan baik, yang utamanya didapat dari penjualan uap dan listrik ke PLN. “Kontrak penjualan uap dan listrik PGEO merupakan kontrak yang bersifat jangka panjang dan selalu terbayarkan secara tepat waktu. Dengan tambahan dana segar IPO, PGEO masih memiliki arus kas yang cukup kuat dan mampu mengatasi kewajiban bayar utang secara tepat waktu,” jelas Baron.
Menanggapi IPO PGEO, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno optimistis unit usaha PT Pertamina ini bisa besar di industri panas bumi.
“Saya kira prospek bisnis yang dimiliki PGE cukup baik meskipun high risk dan high capital, tapi prospek bisnis EBT ke depan tinggi dan minat investor tinggi. Jadi prospeknya cerah ke depan,” katanya.
Dengan dana IPO, sebagian besar modal awal proyek bisa dilaksanakan. Tinggal melihat PGEO dan mitra bisa menjalankannya, baik mitra dari nasional atau swasta asing.
Eddy mengakui, proyek PLTP yang digarap PGEO butuh modal besar. Total investasi yang disiapkan perusahaan sebesar US$1,6 miliar dalam lima tahun ke depan atau hingga 2027. Nilai ini setara Rp24,2 triliun. “Melihat tingginya minat EBT, saya kira PGEO tidak akan kesulitan mendapat mitra, sehingga bank akan tertarik membiayai proyek PGEO ke depannya,” tutup Eddy. (pa/jh)


