BusinessUpdate – Meski mencatatkan laba bersih sepanjang 2022 sebesar Rp81,2 miliar, akan tetapi PT Adhi Karya (ADHI) memutuskan untuk tidak membagikan dividen dari perolehan laba bersih tahun 2022 kepada pemegang saham. Keputusan itu diambil melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa (11/4/2023).
Mengutip keterangan resmi perseroan, sepanjang tahun 2022, ADHI mencatatkan laba bersih sebesari Rp81,2 miliar, naik 47% secara tahunan (yoy) dibandingkan laba bersih di 2021 yang sebesar Rp55,8 miliar.
“Adhi Karya akan menggunakan laba bersih untuk cadangan wajib perseroan, sesuai dengan Peraturan Perundangan tentang Perseroan Terbatas, bahwa Perseroan wajib memiliki cadangan wajib minimal sebesar 20%,” seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Cadangan wajib sebanyak 20% dari laba bersih tahun 2022 setara dengan Rp16,2 miliar. Adapun 80% dari perolehan laba bersih Adhi Karya di 2022 akan digunakan untuk modal kerja perseroan.
Hingga Maret 2023, ADHI membukukan kontrak baru sebesar Rp8,9 triliun atau meningkat hingga 109% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni senilai Rp4,2 triliun.
Kontribusi kontrak baru terbesar diperoleh dari Proyek Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulonprogo Paket 1.2A, Proyek Tol Probowangi Paket 1, Pekerjaan Perkerasan Jalan Pertambangan Tanjung Enim, Proyek Tol Trans Sumatera (Bayung Lencir) dan SPAM Regional Wosusokas.
Lini bisnis engineering dan Konstruksi mendominasi kontribusi kontrak baru sebesar 93%, lini bisnis Properti dan Hospitality sebesar 3% dan bisnis lainnya sebesar 4%.
Berdasarkan sumber dana kontrak baru berasal dari Pemerintah sebesar 28%, proyek investasi dan lainnya sebesar 53%, serta BUMN dan BUMD sebesar 19%.
Perolehan kontrak baru berdasarkan tipe pekerjaan Jalan dan Jembatan berkontribusi sebesar 69%. Berdasarkan tipe, gedung sebesar 14%, tipe infrastruktur sumber daya air sebesar 9% dan lainnya sebesar 8%.
Kontribusi kontrak baru terbesar diperoleh dari proyek infrastruktur Jalan dan Jembatan sebesar 59%, prasarana kereta api 15%, proyek gedung sebesar 12%, serta infrastruktur pengolahan sumber air sebesar 8%, dan 6% berasal dari pekerjaan lainnya. (rn/jh)


