BusinessUpdate – PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) bekerja sama membangun terminal bahan bakar minyak (BBM) Jakarta Integrated Green Terminal (JIGT) yang hijau dan ramah lingkungan.
JIGT yang akan dibangun di kawasan Kalibaru, Jakarta Utara bakal menjadi terminal energi tercanggih di Indonesia. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, JIGT akan dibangun dengan kapasitas 6,3 juta barrel, tiga kali lipat lebih besar dari kapasitas Integrated Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Plumpang.
“Ini akan menjadi infrastruktur yang sangat strategis untuk pengembangan energi terbarukan ke depan di mana ini akan multiproduct karena mencakup conventional dan green product,” ujarnya dalam acara penandatanganan kerjasama PIS dan Pelindo di Menara BRILiaN, Jakarta, Jumat (1/9/2023).
JIGT yang memiliki area seluas 50 hektar direncanakan bakal menampung bahan bakar seperti LPG, BBM, gasoline, dan biodiesel, serta menampung LNG, CPO, UCO (used cooking Oil), dan petrokimia. Terminal ini bahkan bisa untuk menampung hidrogen.
“Jadi ini akan menjadi terminal green yang produknya green dan dikelola secara green, dan diharapkan menjadi flagship untuk Pertamina maupun Pelindo,” kata Kartika.
Adapun JIGT dibangun di kawasan milik Pelindo yang berada di Kalibaru. Lokasi ini dinilai cukup strategis dan bisa menjadi pintu gerbang ekosistem perdagangan energi melalui koridor Singapura-Indonesia yang memiliki porsi 30-35% alur perdagangan global untuk minyak dan LNG.
Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono mengatakan, proyek pembangunan JIGT dilakukan di atas lahan reklamasi Pelindo. Proses reklamasi pun sudah dilakukan sejak 2019 dan ditargetkan akan rampung pada pertengahan 2024 mendatang.
“Mungkin maksimal di pertengahan 2024 lahannya sudah siap. Tentunya teman-teman Pertamina mendesain terkait kebutuhannya seperti apa, sementara Pelindo tetap fokus di kegiatan pelabuhannya,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PIS Yoki Firnandi menuturkan, pembangunan JIGT akan dibagi dalam beberapa tahap. Terdiri dari tahap pembangunan yang dimulai dari tahun ini dengan proses reklamasi, dilanjutkan dengan FEED (Front End Engineering Design) pada 2024, dan konstruksi awal serta penguatan struktur di 2025.
Menurutnya, pembangunan JIGT tahap awal diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$350-550 juta atau sekitar Rp5,3-Rp8,4 triliun. Untuk memperoleh pendanaan, Pertamina tengah menjajaki sejumlah investor yang potensial. Investor yang dijajaki ada dari dalam negeri dan luar negeri.
Sementara itu, dari sisi operasional, pengoperasian terminal akan dilakukan dalam beberapa tahap. Fase pertama pada periode 2027-2035 yakni operasional storage BBM. Lalu fase kedua periode 2035-2040 untuk pembangunan dan operasional storage LNG, FAME, dan Used Cooking Oil (UCO), serta fase terakhir di 2040 pembangunan dan operasional untuk storage hidrogen. (pa/jh)


