BusinessUpdate – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi salah satu garda terdepan untuk mendukung target pemerintah memuwujudkan net zero emission pada tahun 2060, dengan cara menggalakkan kredit ke sektor hijau melalui green banking.
Direktur Corporate Banking BNI Silvano Rumantir mengatakan, komitmen tersebut mengarah pada penggunaan energi baru terbarukan (EBT), yang membutuhkan dukungan perbankan. Dukungan yang bisa diberikan, yakni pembiayaan dan pengembangan produk terhadap sektor berkelanjutan.
“Berdasarkan kalkulasi pemerintah dibutuhkan dana Rp 28.000 triliun dan sampai Juni 2022, sudah sekitar Rp 176,6 triliun pembiayaan BNI di sektor hijau,” kata Silvano dalam Economic Update CNBC Indonesia, Senin (15/8/2022), sebagaimana dikutip cnbcindonesia.com.
Kredit sebesar Rp176,6 triliun nilainya sebesar 28,6% dari total kredit yang disalurkan BNI. Seluruh pembiayaan hijau tersebut diperuntukkan bagi industri yang menghasilkan produk atau jasa yang berdampak positif terhadap lingkungan hidup.
Pertumbuhan tinggi tercatat pada energi terbarukan, terutama pada hydro power plant. Pembiayaan hijau juga diarahkan ke UMKM, pengelolaan lahan berkelanjutan, pengelolaan air dan limbah. Dia menambahkan BNI memiliki tujuan untuk fokus ke debitur top tier yang berkelanjutan dan peduli lingkungan.
“Artinya model perusahaan bisnis blue chip ini sustain dan peduli terhadap lingkungan. Oleh karena itu, BNI secara paralel menerapkan prinsip ESG dan terus ditingkatkan, termasuk untuk green portofolio,” ujarnya.
Beberapa pembiayaan hijau pada top tier nasabah BNI terbukti telah memberikan efisiensi energi dan infrastruktur berwawasan lingkungan. Langkah ini sekaligus menegaskan posisi BNI sebagai pioner.
“Kami juga mengkaji bagaimana memberikan insentif untuk green portofolio. Yang baru kami luncurkan adalah kredit untuk yang memiliki EV. Dengan kepedulian sosial dan lingkungan, praktik tata kelola perusahaan,” pungkas Silvano. (ed/spm)


