BusinessUpdate – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) atau BNI mencatatkan laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp5,32 triliun pada kuartal I/2024.
Nilai tersebut naik tipis 2,02% secara tahunan (yoy) dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp5,22 triliun. “BNI berada di level yang tepat untuk mencapai ROI 20% pada 2028 mendatang,” kata Royke Tumilaar dalam paparan kinerja kuartal I/2024, Senin (29/4/2024).
Berdasarkan laporan keuangan, BNI membukukan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 9,8% yoy menjadi Rp9,39 triliun pada kuartal I/2024. Penyusutan NII disebabkan beban bunga yang melonjak 47,5% yoy menjadi Rp6,48 triliun.
Adapun, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank turun dari 4,68% pada Maret 2023 ke level 4,01% pada Maret 2024. Meski demikian, laba bank terdorong oleh pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang meningkat 21% yoy menjadi Rp3,91 triliun pada kuartal I/2024.
Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) pun mengecil dari Rp2,16 triliun pada kuartal I/2023 menjadi Rp1,72 triliun pada kuartal I/2024. Dari sisi intermediasi, BNI telah menyalurkan kredit Rp695,16 triliun pada kuartal I/2024, tumbuh 9,6% yoy.
Aset pun naik 5,36% yoy menjadi Rp1.066,71 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross juga turun dari 2,77% pada Maret 2023 menjadi 2,04% pada Maret 2024. Namun, NPL net naik dari 0,53% menjadi 0,66%.
Bank berhasil mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp780,22 triliun pada kuartal I/2024, naik 4,9% yoy. Dana murah atau current account saving account (CASA) bank juga naik 6% yoy menjadi Rp543,5 triliun. (pa/jh)


