HomeNEWS UPDATENationalPelemahan Rupiah bisa Membuat Garuda Indonesia Babak Belur

Pelemahan Rupiah bisa Membuat Garuda Indonesia Babak Belur

BusinessUpdate – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengaku bisnis sektor penerbangan terkena dampak besar tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini. 

Direktur Utama GIAA, Irfan Setiaputra menjelaskan, sektor penerbangan merupakan bisnis yang komponennya banyak menggunakan mata uang dolar AS. Pelemahan nilai tukar akan berdampak pada penerimaan dan juga biaya operasional yang dikeluarkan perusahaan. 

“Kalau kursnya melemah terus, kita babak belur karena income-nya kan dalam bentuk rupiah,” jelas Irfan di Jakarta pada Kamis (20/6/2024). 

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, sebagian besar beban usaha Garuda Indonesia tercatat mengalami kenaikan pada kuartal I/2024. Beban operasional GIAA tercatat sebesar US$371,07 juta, naik dari perolehan US$346,17 juta pada kuartal I/2023. 

Sementara itu, beban perbaikan dan pemeliharaan meningkat dari US$78,82 juta menjadi US$123,86 pada kuartal I/2024. Beban bandara naik dari US$43,87 juta menjadi US$54,79 juta. Selanjutnya, beban pelayanan penumpang juga naik menjadi US$43,91 juta dari sebelumnya US$32,36 juta. 

Beban tiket, penjualan, dan promosi meningkat menjadi US$51,86 juta dari sebelumnya US$51,58 juta. Secara keseluruhan, total beban usaha  Garuda Indonesia pada kuartal I/2024 mencapai US$702,92 juta, meningkat dibandingkan perolehan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$605,18 juta. 

Seiring dengan hal tersebut, Garuda Indonesia akan terus berupaya menjaga biaya operasional tetap pada level yang optimal. Selain itu, pelayanan kepada pelanggan juga akan terus ditingkatkan, diantaranya dengan penambahan armada pesawat. 

Penambahan tersebut dilakukan untuk memperluas jaringan rute penerbangan serta meningkatkan frekuensi penerbangan. Meski demikian, Irfan menyebut, prospek kinerja perseroan ke depannya masih positif. Hal tersebut seiring dengan tren pertumbuhan sektor penerbangan di Indonesia hingga pertengahan 2024 ini. 

Prospek positif ini juga didukung oleh banyaknya periode libur panjang yang terjadi pada 2024, sehingga minat masyarakat untuk bepergian turut meningkat. Selain itu, Garuda Indonesia juga menjadi salah satu operator penerbangan Haji untuk periode 1445 H/2024. 

“Sebenarnya untuk ke depannya masih oke. Tetapi ada juga faktor geopolitik global yang harus diwaspadai, karena kita akan kena dampaknya juga,” tutup Irfan. (pa/jh)

Must Read