BusinessUpdate – PT Bank Jago Tbk (ARTO) tidak akan membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya dari laba tahun ini. Perseroan tengah fokus untuk memperkuat permodalan.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris Tandjung dalam public expose live, Kamis (29/8/2024). Langkah tersebut diambil untuk mendukung strategi pertumbuhan perusahaan dalam jangka menengah.
“Kami belum berencana membagikan dividen karena fokus utama kami saat ini adalah memperkuat permodalan agar dapat terus tumbuh dengan sehat,” ujar Arief.
Menurutnya, laba yang diperoleh akan dialokasikan untuk mendorong permodalan perusahaan, yang dianggap krusial untuk mendukung ekspansi bisnis di masa mendatang.
Meskipun pertumbuhan bisnis Bank Jago saat ini lebih tinggi dari rata-rata industri, bank tersebut masih berada pada fase pengembangan dengan ukuran yang relatif kecil.
“Kami melihat bahwa dalam 3-5 tahun ke depan, potensi pertumbuhan bisnis kami bisa mencapai 2-3 kali lipat dari rata-rata industri. Oleh karena itu, peningkatan modal sangat diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ini,” jelasnya.
Dalam pandangannya, menjaga modal yang kuat akan memungkinkan Bank Jago untuk terus mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan.
“Dengan demikian, belum ada rencana untuk membagikan dividen. Saya pikir lebih baik laba yang ada digunakan untuk memperkuat modal sehingga kami dapat terus mendukung pertumbuhan bisnis kami di masa depan,” tegas Arief.
Sebagai informasi, PT Bank Jago Tbk (ARTO) telah membukukan laba bersih setelah pajak senilai Rp50 miliar pada semester I/2024. Angka tersebut naik 23% dari periode sama tahun lalu.
Arief mengungkapkan, model bisnis yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi dengan ekosistem digital menjadi kunci keberhasilan Bank Jago dalam pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra seperti ekosistem dan platform digital, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan lainnya, Bank Jago berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp15,7 triliun per akhir Juni 2024 atau tumbuh 40% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp11,2 triliun. (rn/jh)


