BusinessUpdate – Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) tak menampik bahwa gerai ritel di Indonesia berguguran. Salah satu penyebabnya adalah adanya perubahan tren gaya berbelanja masyarakat.
Ketua Umum Hippindo Alphonzus Widjaja mengatakan, ritel yang paling banyak menutup tokonya berada di kategori fesyen atau lifestyle. “Fesyen itu sangat identik dengan lifestyle. Jadi kalau di kota-kota besar, pengaruh gaya hidup itu sangat luar biasa. Kalau merek-merek ini tidak bisa mengikuti perubahannya, dia akan ditinggal,” ujarnya usai menghadiri jumpa pers di Jakarta, Senin (16/12/2024).
Ditambah lagi, adanya penurunan daya beli yang membuat pengusaha ritel tidak mendapatkan keuntungan yang optimal. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab mengapa ratusan toko Alfamart tutup.
Menurutnya, dari 400 toko Alfamart yang tutup, mayoritas ada di daerah-daerah yang daya belinya turun. “Yang paling terdampak itu kan di Pulau Jawa. Pulau Jawa benar-benar terdampak karena Pulau Jawa lebih banyak buruh karyawan. Memang saya enggak tahu spesifik Alfamart tutup di daerah mana, tapi kalau dilihat pasti di daerah-daerah yang memang terdampak daya beli,” jelasnya. Ia memproyeksikan bahwa sepanjang tahun ini, bisnis ritel hanya mampu tumbuh kurang dari 5%.
Sementara itu, Plt. Wakil Ketua Umum Hippindo Fetty Kwartati mengungkapkan bahwa salah satu penyebab ritel mulai berguguran adalah banyaknya tantangan yang dihadapi, seperti alur supply chain yang panjang dan kaku.
Hal ini pun membuat banyak barang di toko kosong. Ketika barang kosong di toko, manajemen Stock Keeping Unit (SKU) menjadi berantakan, yang berimbas pada penjualan yang terganggu. “Kalau barang di toko kosong, itu pasti ada broken SKU, tentu itu menyebabkan penjualan pun bisa terganggu. Kalau penjualan lama-lama terganggu, kan bisa tutup,” tutup Fetty. (ip/jh)


