BusinessUpdate – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menargetkan pertumbuhan kredit pada rentang 10% hingga 13% pada 2025. Untuk mencapai target tersebut perseroan akan membidik proyek-proyek hilirisasi.
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyebut bahwa sektor terkait hilirisasi akan menjadi penopang utama penyaluran kredit perseroan, seiring dengan kebutuhan pemangku kepentingan seperti pemerintah. “Lebih banyak ke hilirisasi lah, ya. Karena seperti saya bilang tadi, kebutuhan untuk hilirisasi itu besar sekali,” kata Royke, dikutip dari Bisnis, Kamis (16/1/2025).
Menurutnya, satu proyek hilirisasi dapat membutuhkan dana hingga mencapai US$1 miliar atau lebih dari Rp15 triliun. Jumlah tersebut tidak mungkin hanya dipenuhi oleh satu bank, sehingga kredit sindikasi turut menjadi opsi yang dipertimbangkan bank.
Royke menjelaskan, hingga November 2024, BNI telah menyalurkan total kredit Rp60 triliun untuk penghiliran di berbagai sektor.
Soal penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia alias BI Rate ke level 5,75%, ia berharap hal itu dapat mendorong penyaluran kredit BNI ke depan. “Mudah-mudahan. Sinyal BI menurunkan suku bunga 0,25 itu sudah bagus banget, pasti impact-nya positif, lah,” tuturnya.
Pada November 2024, BNI membukukan laba bersih sebesar Rp19,81 triliun, tumbuh 4,03% secara tahunan (yoy) dari Rp19,04 triliun. Dari sisi intermediasi, BBNI telah menyalurkan kredit sebesar Rp739,53 triliun, tumbuh 10,96% yoy. Aset bank pun naik 9,83% yoy menjadi Rp1.072,63 triliun. Dari sisi pendanaan, BNI telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp783,78 triliun per November 2024, tumbuh 6,99% secara tahunan. (ip/jh)


