BusinessUpdate – Penerapan cofiring biomassa oleh PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nii Tanasa, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berhasil membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar untuk menjadi pemasok kayu.
Manager Unit PLTU dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Nii Tanasa Kendari Apriyadi mengatakan, penerapan cofiring biomassa sejak 2021 dan secara konsisten baru dilakukan pada 2023. Ia menyampaikan saat ini pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pencampur batu bara (cofiring) dalam satu hari bisa mencapai 50 ton.
Apriyadi menjelaskan pada 2024 lalu pihaknya telah memproduksi 8.500 mWh, kemudian untuk periode Januari hingga April 2025 pihaknya telah memproduksi sekitar energi hijau 4.000 megawaat hour (MWh). “Harapannya nanti di akhir tahun ini bisa mencapai di 12.000 MWh,” ucapnya.
Ia mengatakan pihaknya telah melakukan pengujian untuk menaikkan jumlah biomassa dari potongan pohon gamal hingga mencapai 100% tanpa dicampur dengan batu bara di pembakaran PLTU, hasilnya menunjukkan operasional yang aman, akan tetapi perlu meneliti lebih jauh lagi untuk pengoperasian dalam jangka panjangnya.
“Itu yang akan kami lakukan investigasi, dan mohon doanya mudah-mudahan nanti tetap aman dan bisa kita tingkatkan untuk presentasenya,” lanjutnya.
Program cofiring dari PLN ini disambut baik masyarakat setempat yang awalnya hanya tahu pohon gamal sebagai tanaman pembatas lahan. Karena itu, pohon gamal banyak digunakan sebagai pagar hidup yang mengelilingi kebun dan lahan warga.
Belakangan masyarakat baru tahu dahan dan ranting gamal punya nilai ekonomi dan dihargai cukup bagus oleh PT Senator Karya Meneges (SKM), perusahaan mitra PLN Energi Primer Indonesia (EPI) yang menyuplai bahan bakar cofiring biomassa ke PLTU.
“Artinya kami ini sebagai masyarakat sangat bersyukur, luar biasalah dampak positifnya. Di samping membantu ekonomi, apalagi kami ini petani, otomatis ini (gamal) sangat membantu pembiayaan kebun kita,” kata Sakring, warga Desa Watudemba Sakring di Konsel, dikutip dari Antara, Rabu (4/6/2025).
Ia menyebutkan dari hasil pemanfaatan pohon gamal di kebunnya, bisa memperoleh uang tunai sekitar Rp150 ribu setiap pengantaran menggunakan mobil bak terbuka.
Sakring mengungkapkan penggunaan pohon gamal untuk biomassa di PLTU sangat membantu para warga di desanya. “Setelah kami tahu bahwa ini ada harga, kami memelihara dan menjualnya,” ucapnya.
Sakring juga meyakini jika pohon gamal di daerahnya tidak akan pernah habis, karena pohon tersebut sangat mudah untuk tumbuh. Bahkan, hanya butuh waktu sekitar enam bulan sudah bisa dipanen.
“Gamal ini mudah tumbuh di mana saja, setelah kami tebang tanaman akan muncul tunas. Setelah besar bisa dipanen lagi,” ucapnya. Sakring berharap agar program biomassa yang dijalankan oleh PT PLN tersebut bisa terus dilaksanakan dan bisa meningkatkan harga beli di masyarakat.
Seemntara itu, Kepala Desa Watudemba Nerni menyampaikan, bahwa pemerintah desa sangat bersyukur dengan adanya PT SKM di wilayahnya. Selain membuka lapangan kerja, perusahaan itu juga bisa memberikan penghasilan bagi warga yang mau ikut untuk memanfaatkan pohon gamal, yang sebelumnya hanya menjadi pagar kebun mereka saja.
“Saya sebagai pemerintah desa Watudemba, syukur Alhamdulillah dengan adanya PT. SKM datang ke desa Watudemba ini, membuka lapangan pekerjaan khususnya untuk anak-anak di desa Watudemba,” ujar Nerni. (ip/jh. Foto: Dok. Antara)


