HomeCORPORATE UPDATEBUMNPalmco Targetkan 22 Hektar Kebun Petani Mitra Ikut Program Peremajaan Sawit

Palmco Targetkan 22 Hektar Kebun Petani Mitra Ikut Program Peremajaan Sawit

BusinessUpdate – PTPN IV Palmco menargetkan sebanyak 22 ribu hektar kebun petani mitra dapat mengikuti program pemerintah untuk peremajaan sawit rakyat (PSR) sepanjang 2025. Pada semester I/2025 program PSR mencapai 11 ribu hektar.

“Target kita hingga Desember nanti, 22 ribu hektar kebun petani mitra dapat mengikuti PSR. Harapannya sampai dengan 2029 bisa membantu peremajaan 86 ribu hektar kebun sawit rakyat,” kata Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa melalui keterangan resmi di Jakarta, Kamis (7/8/2025).

Jatmiko mengatakan penguatan PSR penting untuk meningkatkan daya saing industri sawit nasional. Dalam perspektif nasional, PSR dapat menjadi solusi utama atas rendahnya produktivitas CPO petani yang berada di kisaran 2-3 ton CPO per hektar per tahun.

Menurut Jatmiko, perlu beberapa hal yang akan berdampak pada percepatan PSR. “Relaksasi syarat, penyelesaian sawit dalam kawasan, dan jaminan penyaluran bibit unggul. Tiga hal ini sangat penting untuk mengakselerasi PSR kita,” katanya.

Selain penguatan PSR, Jatmiko juga menyoroti beberapa tantangan industri sawit. Saat ini meskipun minyak sawit mentah (CPO) merupakan minyak nabati dengan produksi dan konsumsi terbesar di dunia, namun produktivitasnya di tingkat global tidak mengalami peningkatan yang signifikan dan bahkan cenderung stagnan.

Terlebih, harga CPO yang sebelumnya lebih murah dari minyak rapeseed (minyak nabati lain), kini justru lebih mahal. Kondisi itu perlu diantisipasi agar industri sawit Indonesia tetap mampu bersaing di tengah global tren yang mempengaruhinya, mulai dari gejolak makro ekonomi, tensi geopolitik, perubahan iklim hingga tekanan atas isu keberlanjutan.

“Kita sering sesumbar CPO paling produktif dengan harga paling kompetitif. Saat ini kondisinya mulai berbeda. Jika terlena, kita akan tergilas,” ujarnya.

Untuk menghadapi tantangan itu, selain PSR, Jatmiko mengatakan hal yang perlu terus diupayakan adalah ketersediaan bibit sawit unggul bagi petani rakyat yang memegang porsi terbesar pada komposisi luasan kebun Indonesia.

“Saat ini produksi bibit sawit bersertifikat dari 20 produsen benih resmi yang ada mencapai 4,1 juta bibit. Untuk kecambah, produksinya menyentuh 241 juta. Dari sisi jumlah sudah memenuhi estimasi 2025 di angka 151 juta. Namun, tantangannya ada pada keunggulan varietas, sehingga didapatkan bibit dengan produktivitas yang mumpuni,” lanjutnya.

Perseroan terus berupaya memenuhi kebutuhan bibit unggul. Dari total 4,1 juta bibit sawit tersebut, 77% atau 3,2 jutanya diproduksi PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit). “Harapannya kita mampu terus memenuhi kebutuhan bibit unggul baik untuk areal replanting maupun areal baru yang diproyeksikan meningkat dari tahun ke tahun,” kata Jatmiko.

Ia menjelaskan peningkatan produktivitas CPO nasional semakin penting seiring dengan kebutuhan mandatory B35 bahkan B50 di tahun 2027 nanti. Melalui kebijakan B35, pemerintah memperkirakan dapat menyerap 13,15 juta kiloliter biodiesel bagi industri dalam negeri, sedangkan melalui B50 diharapkan dapat menyerap 2,11 juta kiloliter.

“Maka, butuh tambahan alokasi 6,7 juta kiloliter biodiesel atau setara dengan 7,2 juta ton CPO. Ini kita harapkan tidak sampai mengganggu kebutuhan CPO untuk pangan. Maka sekali lagi, peningkatan produksi CPO nasional adalah keharusan,” jelasnya.

Terakhir, yang menjadi kunci penguatan industri sawit nasional adalah komitmen perusahaan terhadap prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG). “Penerapan ESG menjadi jawaban terbaik untuk isu-isu dan tekanan keberlanjutan yang terus menyertai industri ini,” tutup Jatmiko. (rn/jh)

Must Read