BusinessUpdate – Google meningkatkan layanan fitur kecerdasan buatan (AI) dalam mesin pencariannya, AI Mode, dengan menghadirkan lima bahasa baru, termasuk Bahasa Indonesia, setelah sebelumnya terbatas hanya pada bahasa Inggris selama lebih dari enam bulan.
Mengutip dari Tech Crunch pada Rabu (10/9/2025), Google mengumumkan bahwa AI Mode kini mendukung Bahasa Indonesia, India, Jepang, Korea, dan Portugis Brazil.
Pembaruan ini menyusul peluncuran pada bulan lalu yang memperluas AI Mode dalam bahasa Inggris ke 180 pasar baru, setelah awalnya hanya tersedia di Amerika Serikat, kemudian di Inggris dan India.
“Dengan ekspansi ini, lebih banyak orang kini dapat menggunakan AI Mode untuk mengajukan pertanyaan kompleks dalam bahasa pilihan mereka, sekaligus menjelajahi web lebih dalam,” kata VP Product Management Google Search Hema Budaraju.
AI Mode pertama kali diluncurkan sebagai eksperimen untuk pelanggan Google One AI Premium pada Maret lalu. Fitur ini hadir sebagai jawaban Google terhadap platform pencarian berbasis AI lainnya, termasuk Perplexity dan ChatGPT Search dari OpenAI.
AI Mode memanfaatkan versi khusus dari model Gemini 2.5 yang memiliki kemampuan multi modal dan penalaran. Pada Agustus, Google menambahkan fitur agentic ke AI Mode, yang memungkinkan pengguna mencari reservasi restoran dengan bantuan AI. Dukungan untuk pemesanan layanan lokal dan tiket acara juga akan dihadirkan.
Namun, pembaruan ini masih terbatas untuk pelanggan Google AI Ultra di AS melalui program eksperimen “Agentic capabilities in AI Mode” di Labs. Paket Ultra ini dibanderol US$250 (sekitar Rp4,1 juta) per bulan.
Saat ini, AI Mode dapat diakses melalui tab khusus di halaman hasil pencarian serta tombol di kolom pencarian. Google disebut tengah mempersiapkan agar layanan pencarian berbasis AI ini menjadi fitur utama dalam waktu dekat, sebagaimana ditunjukkan oleh pernyataan Group Product Manager Google DeepMind Logan Kilpatrick di platform X pekan lalu.
Meski begitu, inovasi terbaru Google termasuk AI Mode dan AI Overviews mendapat kritik karena dianggap memengaruhi jumlah klik ke situs web. Namun, bulan lalu Google membantah bahwa fitur pencarian AI mereka mengurangi jumlah kunjungan ke situs web. (rn/jh. Foto: Dok. Google)


