HomeCORPORATE UPDATEBUMNGaruda Indonesia Targetkan Tahun 2026 Menjadi Titik Balik Kinerja Perusahaan

Garuda Indonesia Targetkan Tahun 2026 Menjadi Titik Balik Kinerja Perusahaan

BusinessUpdate – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menargetkan tahun 2026 sebagai fase pembalikan arah kinerja perusahaan. Sepanjang 2025 perseroan telah melalui fase konsolidasi bisnis, yang ditandai penurunan pendapatan dan tekanan operasional akibat keterbatasan armada.

Sepanjang 2025, Garuda Indonesia Group mencatat pendapatan usaha konsolidasi sebesar US$3,22 miliar atau sekitar Rp50,2 triliun, turun 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan mengatakan, perusahaan kini memfokuskan langkah transformasi untuk memperbaiki fundamental bisnis menuju fase pemulihan kinerja. “Garuda Indonesia menempatkan tahun 2026 sebagai titik akselerasi pemulihan kinerja perusahaan,” ujar Glenny, melalui keterangannya, Selasa (17/3/2026).

Ia menambahkan, penguatan fundamental bisnis yang dibangun beberapa tahun terakhir menjadi landasan untuk meningkatkan kapasitas produksi, optimalisasi pendapatan, dan efisiensi operasional yang lebih berkelanjutan.

Sepanjang 2025, kinerja perusahaan juga dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas produksi pada semester I/2025 karena sejumlah pesawat masih menunggu perawatan terjadwal sehingga jumlah unserviceable aircraft masih cukup tinggi.

Garuda Indonesia mencatat rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau sekitar Rp4,98 triliun pada 2025. Kerugian ini dipengaruhi fluktuasi nilai tukar serta peningkatan biaya tetap seiring intensitas program pemulihan armada yang belum dapat dioperasikan.

Di tengah tantangan tersebut, jumlah penumpang Garuda Indonesia Group mencapai 21,2 juta orang, turun 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Memasuki 2026, arah transformasi Garuda diperkuat oleh manajemen baru yang ditunjuk oleh Danantara pada akhir kuartal IV/2025. Struktur kepemimpinan baru terdiri dari Direktur Utama Glenny Kairupan dan Wakil Direktur Utama Thomas Oentoro, didukung kombinasi talenta internal serta profesional internasional di jajaran direksi.

Manajemen menyiapkan 11 inisiatif transformasi strategis yang akan dijalankan sepanjang 2026. Inisiatif tersebut meliputi optimalisasi jaringan rute, peningkatan kapasitas armada, transformasi digital platform, penguatan revenue management, peningkatan monetisasi kargo, optimalisasi pendapatan tambahan, pembentukan aliansi strategis, peningkatan tata kelola biaya, digitalisasi operasional, sinergi organisasi, serta peningkatan pengalaman pelanggan.

Menurut manajemen, langkah-langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat daya saing maskapai nasional di tengah dinamika industri penerbangan global.

Upaya transformasi juga ditopang penguatan struktur permodalan perusahaan. Pada akhir 2025, posisi ekuitas Garuda Indonesia kembali positif sebesar US$91,9 juta atau sekitar Rp1,43 triliun, dari sebelumnya negatif US$1,35 miliar atau sekitar Rp21,06 triliun.

Perbaikan ini terjadi setelah dukungan shareholder loan dan capital injection dari Danantara sepanjang 2025 dengan nilai sekitar Rp23,7 triliun. Dari total dana tersebut, sekitar Rp15 triliun atau 64% dialokasikan untuk Citilink, sedangkan Garuda Indonesia memperoleh Rp8,7 triliun untuk mendukung perawatan dan reaktivasi armada.

Pendanaan ini juga digunakan untuk penyelesaian kewajiban Citilink kepada Pertamina. Dukungan tersebut turut memperbaiki likuiditas perusahaan. Garuda Indonesia mencatat kas dan setara kas sebesar US$943,4 juta atau sekitar Rp14,7 triliun pada akhir 2025, meningkat signifikan dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$219,1 juta atau sekitar Rp3,42 triliun.

Pendanaan ini juga mulai berdampak pada operasional pada semester II/2025 melalui penyelesaian lebih dari 100 event maintenance untuk meningkatkan kesiapan armada.

Pada akhir 2025, jumlah pesawat yang siap beroperasi mencapai sedikitnya 99 armada, meningkat dari sekitar 84 armada pada Juni 2025. Sementara itu, terdapat 43 pesawat yang masih menjalani proses perawatan.

Ke depan, Garuda Indonesia menargetkan pada akhir 2026 dapat mengoperasikan 68 pesawat serviceable, sedangkan Citilink menargetkan 50 pesawat. Perawatan armada dilakukan melalui sejumlah program seperti heavy maintenance airframe check pada pesawat Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, serta Airbus A330.

Selain itu, perusahaan juga menjalankan overhaul dan shop visit pada komponen utama seperti mesin pesawat, Auxiliary Power Unit (APU), serta landing gear.

Manajemen optimistis dengan eksekusi transformasi yang konsisten, dukungan pemegang saham, serta kemitraan strategis global, Garuda Indonesia dapat mempercepat pemulihan kinerja sekaligus memperkuat perannya sebagai maskapai nasional yang kompetitif. (rn/jh. Foto: Dok. Garuda Indonesia)

Must Read