BusinessUpdate – PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF), anggota holding BUMN Farmasi Bio Farma Group, berhasil menurunkan rugi tahun berjalan dari Rp1,21 triliun pada 2024 menjadi Rp443,36 miliar pada 2025.
Ida Rasita Kirin, Corporate Secretary Kimia Farma, menyebutkan sepanjang 2025, KAEF menjalankan program restrukturisasi keuangan secara konsisten dan mulai menunjukkan hasil positif.
Mengutip laporan keuangan, pendapatan mencapai Rp9,22 triliun pada 2025, menurun 7,2% dari sebelumnya Rp9,93 triliun. Beban pokok penjualan ditekan menjadi Rp6,16 triliun dari sebelumnya Rp6,99 triliun. Penurunan ini juga diikuti oleh penyusutan beban usaha sebesar 12,65%, dari Rp3,79 triliun pada 2024 menjadi Rp3,31 triliun pada 2025.
“Dampak dari efisiensi operasional dan optimalisasi portofolio produk, perseroan mencatatkan kenaikan laba bruto menjadi Rp3,06 triliun, tumbuh dari 2024 sebesar Rp2,95 triliun,” paparnya dalam siaran pers, Senin (6/4/2026).
Rugi tahun berjalan berkurang dari Rp1,21 triliun pada 2024 menjadi Rp443,36 miliar pada 2025. Penurunan rugi per saham dasar dari Rp151,31 menjadi Rp60,17 mencerminkan pemulihan yang sedang berlangsung.
Selain itu, struktur liabilitas menjadi lebih sehat. Liabilitas jangka pendek berkurang dari Rp7,91 triliun menjadi Rp7,06 triliun. Penurunan signifikan terlihat pada utang bank jangka pendek yang berkurang dari Rp3,06 triliun menjadi Rp1,09 triliun, sejalan dengan upaya penyehatan struktur keuangan.
Dalam rangka menjaga kelangsungan bisnis dan mendorong pertumbuhan yang lebih sehat, Kimia Farma terus menjalankan transformasi secara menyeluruh di seluruh lini usaha.
Ida menyampaikan transformasi tersebut berfokus pada penguatan fundamental bisnis melalui enam pilar strategi, yaitu ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), dan sinergi antar-entitas KAEF Grup.
Sejalan dengan strategi tersebut, KAEF juga melakukan penajaman fokus bisnis dengan mengutamakan pengembangan dan pemasaran produk dengan margin yang lebih tinggi, serta tetap berkomitmen untuk menyediakan obat untuk mendukung program pemerintah guna menjaga aksesibilitas layanan kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, transformasi digital terus berjalan sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi dan kualitas layanan, mencakup penguatan sistem operasional, supply chain, serta integrasi data untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Kimia Farma memperoleh pendanaan berupa pinjaman pemegang saham atau share holder loan (SHL) senilai Rp846 miliar yang bersumber dari PT Danantara Asset Management (Danantara), melalui PT Bio Farma (Persero) selaku holding BUMN farmasi.
Melalui tambahan modal kerja dari SHL ini, KAEF dapat memperbaiki kinerja operasional secara berkelanjutan, memperkuat struktur keuangan, serta menjaga keberlangsungan usaha di tengah proses restrukturisasi yang sedang berjalan. (pa/jh. Foto: Dok. Kimia Farma)


