BusinessUpdate – Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap pasar hunian premium di Indonesia. Segmen properti kelas atas masih ditopang oleh konsumen dengan daya beli kuat yang lebih mempertimbangkan kualitas produk dan eksklusivitas dibandingkan faktor harga semata.
Head of Advisory Services Colliers Indonesia Monica Koesnovagril mengatakan, seperti di pasar apartemen, pasar rumah premium atau luxury merupakan pasar ceruk (niche market) yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan segmen menengah.
Kelompok konsumen pada pasar ini relatif terbatas dan cenderung tetap, sehingga gejolak ekonomi, termasuk pelemahan rupiah, tidak secara langsung mengubah pola permintaannya. “Selalu ada pasar di sini, walau sangat terbatas. Apakah ini berarti ada peningkatan jumlah orang kaya baru? Tidak selalu, karena pasarnya tetap,” kata Monica dikutip dari Bisnis, Minggu (7/6/2026).
Menurut Monica, sebagian besar pembelian hunian premium dilakukan untuk kebutuhan sendiri, diversifikasi aset, serta investasi internal keluarga. Karakteristik tersebut membuat keputusan pembelian tidak terlalu dipengaruhi oleh fluktuasi jangka pendek di pasar keuangan maupun pergerakan nilai tukar.
Namun demikian, tidak semua produk premium yang dipasarkan pengembang mencatat penjualan yang baik. Faktor utama yang menentukan keberhasilan penjualan meliputi lokasi strategis dengan prospek investasi yang baik, reputasi pengembang yang telah teruji, konsep produk yang unik dan sesuai gaya hidup modern, serta tingkat eksklusivitas yang ditawarkan.
Ia mengatakan, hunian premium di Indonesia umumnya tidak dibeli untuk mengejar keuntungan investasi jangka pendek. Hal itu tercermin dari pertumbuhan harga yang relatif terbatas, dengan kenaikan rata-rata maksimal sekitar 5% per tahun. Adapun, pasar properti premium memiliki rentang harga di atas Rp10 miliar.
“Ini juga selaras dengan alasan orang membeli hunian premium ini yang umumnya tidak untuk investasi,” tuturnya. Kondisi tersebut berbeda dengan pasar properti premium di Singapura, Hong Kong, dan Dubai yang berfungsi sebagai pusat bisnis global.
Tingginya aktivitas bisnis internasional dan kehadiran pembeli dari berbagai negara membuat properti mewah di kota-kota tersebut menjadi instrumen investasi yang menarik sekaligus tempat tinggal.
Sementara itu, Direktur Sales & Marketing Paramount Land Ferry John Sihombing menyampaikan, permintaan rumah premium hingga saat ini masih cukup baik meskipun perekonomian menghadapi berbagai tekanan, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, konsumen pada segmen ini didominasi oleh pengusaha, profesional, dan investor yang memiliki kemampuan finansial lebih kuat sehingga tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga maupun kondisi ekonomi jangka pendek.
“Pada segmen ini, kualitas produk, lokasi, eksklusivitas, serta potensi menjadi pertimbangan utama dibandingkan harga,” tegasnya. Ia melihat tren kebutuhan hunian kelas atas saat ini mengarah pada konsep residensial yang mengutamakan privasi, kenyamanan, serta keseimbangan antara kehidupan modern dan kedekatan dengan alam. (pa/jh. Foto: Dok. Bukit Podomoro)


