HomeSCIEN-TECHTepung Singkong Bisa Padamkan Api, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Tepung Singkong Bisa Padamkan Api, Ini Penjelasan Ilmiahnya

BusinessUpdate – Tepung singkong bisa digunakan sebagai alternatif memadamkan api. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan penggunaan bahan berbasis singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran memiliki dasar ilmiah yang kuat.

“Pernyataan Bapak Presiden terkait penggunaan bahan berbasis singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran memiliki dasar ilmiah yang kuat. Namun, formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya tetap harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur,” ujar periset Kimia Molekuler BRIN Julinton dilansir dari laman resmi BRIN pada Jumat, (28/8/2026).

Menurut Julinton, pati singkong (tepung tapioka) mengandung komponen alami yang mudah menyerap air dan mengikat bahan lain. Melalui proses olahan khusus, sifat alami tapioka ini bisa diubah sesuai kebutuhan industri.

Dalam teknologi yang sedang dikembangkan, pati singkong tidak digunakan sendiri, tetapi dikombinasikan dengan ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah.

“Bahan ini dirancang bekerja melalui beberapa mekanisme yang saling melengkapi. Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar. Pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi, sementara wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas,” papar Julinton.

APP (Ammonium Polyphosphate) merupakan senyawa kimia berbasis asam fosfat dan amonia yang umum digunakan sebagai bahan aktif utama dalam formula pemadam kebakaran lahan serta cat anti-api. Saat terpapar suhu tinggi, APP akan meleleh dan terurai menghasilkan spesies asam fosfat dan polifosfat.

Senyawa asam inilah yang bertindak sebagai agen pemicu (katalis) untuk mempercepat proses pelepasan molekul air (dehidrasi) pada material alami tumbuhan seperti selulosa dan polisakarida (zat gula kompleks). Reaksi kimia tersebut mengubah jalur dekomposisi vegetasi. Alih-alih menguap menjadi gas volatil yang mudah terbakar, material kayu dan daun justru langsung terkarbonisasi menjadi residu karbon padat (char).

Lapisan char ini membentuk benteng fisik tebal yang mendinginkan area, menahan cairan kelembapan, serta menyumbat akses oksigen dan radiasi panas ke permukaan bahan bakar di bawahnya. Dengan begitu, teknologi ini menekan laju perambatan api secara efektif tanpa perlu bergantung pada metode “menghilangkan oksigen” dari atmosfer.

Teknologi tersebut secara efektif menurunkan laju perambatan api sehingga kebakaran hebat dapat dicegah sejak dini. Julinton menjelaskan, proses produksi inovasi ini bermula dari ekstraksi pati singkong mentah, yang kemudian dimurnikan dan dimodifikasi secara kimia untuk memperoleh karakteristik fisikokimia dan reologi yang sesuai.

Beberapa jalur modifikasi, termasuk fosforilasi, cross-linking, atau modifikasi fungsional lainnya, akan dievaluasi untuk meningkatkan kestabilan formulasi, kemampuan membentuk film, retensi air, serta sinerginya dengan APP.

“Pati hasil modifikasi kemudian diformulasikan bersama APP atau komponen fosfat yang sesuai, wetting agent berkonsentrasi rendah, dan air. Komposisi masing-masing komponen tidak ditetapkan secara arbitrer, tetapi akan dioptimalkan berdasarkan viskositas, stabilitas penyimpanan, sedimentasi, redispersibilitas, tegangan permukaan, pembentukan droplet, kompatibilitas material, dan kinerja pemadaman,” jelasnya.

Di lapangan, penggunaan racikan APP (Ammonium Polyphosphate) dan pati singkong (Manihot esculenta) dirancang tetap sederhana dengan mencampurkan konsentrat atau bahan formulasi langsung ke dalam tangki air sebelum penyemprotan. Namun, tingkat pekat atau konsentrasi optimum bahan ini belum ditetapkan secara pasti dan masih terus diteliti agar formulasi tetap memiliki daya retensi yang baik, yaitu kemampuan menempel dan mengikat air pada permukaan tumbuhan.

Dengan demikian tak menimbulkan masalah teknis seperti viskositas (kekentalan) berlebihan yang membuat cairan sulit mengalir, sedimentasi (pengendapan material padat di dasar tangki), maupun penyumbatan pada mesin pompa dan lubang semprotan (nozzle).

Secara taktis, tepung yang diubah dalam bentuk cairan retardan atau CASSA-P, bisa digunakan untuk penyemprotan udara maupun darat. Pada saat di udara, formulasi diatur ketat agar viskositas (kekentalan cairan) dan ukuran tetesan air (droplet) berada di tingkat optimal. Hal ini penting untuk menekan risiko penguapan dan drift (cairan terbawa angin ke area salah) tanpa membebani kinerja pompa serta lubang semprotan (nozzle).

Dalam operasi berbasis drone (pesawat tanpa awak), CASSA-P difokuskan untuk penyemprotan presisi pada titik api awal, batas samping (flank) kebakaran, titik loncatan api (spot fire), hingga pembuatan benteng pelindung (retardant line) pada vegetasi yang belum terbakar.

Penggunaan kamera termal turut terintegrasi untuk mendeteksi titik panas tersembunyi sekaligus memantau area agar api tidak menyala kembali (re-ignition). Untuk operasi darat, petugas armada pemadam dapat menyemprotkan CASSA-P langsung pada vegetasi di sekitar pusat api atau area strategis yang harus diselamatkan.

Metode ini bekerja efektif dengan membasahi tanaman menggunakan wetting agent (zat pembasah) dan membentuk retardant line—jalur vegetasi berselimut retardan yang berfungsi menahan dan memperlambat laju perambatan api ke wilayah baru.

Pada kebakaran berintensitas tinggi, teknologi CASSA-P tidak menggantikan seluruh metode pemadaman konvensional secara mutlak, melainkan berperan sebagai sistem pendukung untuk respons cepat, penanganan spot fire, dan perlindungan obyek vital yang terintegrasi dengan personel lapangan.

Dibandingkan pemadam impor, keunggulan utama CASSA-P terletak pada pemanfaatan pati singkong domestik sebagai biomaterial lokal yang dikombinasikan dengan senyawa fosfat dan air, menciptakan mekanisme pemadaman ramah lingkungan yang terintegrasi secara utuh. Meskipun pati singkong berasal dari biomassa terbarukan, formulasi akhir tidak dapat langsung diklaim 100% biodegradable (diurai secara alami oleh mikroorganisme)atau tidak beracun.

Keselamatan lingkungan CASSA-P harus dibuktikan melalui pengujian biodegradabilitas, fitotoksisitas, dampak terhadap organisme tanah dan air, kandungan serta pelepasan fosfat dan nitrogen, serta karakteristik residu setelah pembakaran. (ip/jh)

Must Read