BusinessUpdate – PT Phapros Tbk (PEHA), bagian dari Holding BUMN Farmasi, mencatatkan laba bersih sebesar Rp14,97 miliar sepanjang semester I/2026. Laba bersih tersebut melonjak 511,01% dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,45 miliar.
Direktur Utama PT Phapros Tbk Intan Abdams Katoppo mengatakan, pertumbuhan kinerja perseroan pada paruh pertama 2026 ditopang oleh peningkatan penjualan, perbaikan margin laba kotor, serta efisiensi operasional dalam proses produksi di pabrik.
Adapun, perbaikan margin laba kotor didorong oleh penguatan portofolio produk, sementara pertumbuhan kinerja secara keseluruhan merupakan hasil dari sejumlah strategi yang dijalankan perusahaan.
“Phapros berhasil menjaga tren pertumbuhan kinerja keuangan. Kami optimistis bahwa kinerja laba Phapros akan terus bertumbuh lebih dari 2 (dua) digit hingga akhir tahun 2026. Untuk itu, kami konsisten menjalankan strategi perusahaan untuk terus memperkuat inovasi dan profitabilitas sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan kesehatan masyarakat Indonesia,” ujar Intan dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2026).
Strategi tersebut meliputi penguatan kondisi finansial yang sehat dan berkelanjutan melalui pengendalian biaya yang lebih terukur, peningkatan kepuasan pelanggan, penguatan portofolio produk, transformasi sistem dan proses bisnis, serta optimalisasi sumber daya manusia dan budaya perusahaan.
Lonjakan laba bersih Phapros juga didorong oleh pertumbuhan penjualan sebesar 5,37% secara tahunan (yoy). Penjualan perseroan pada semester I/2026 mencapai Rp482,85 miliar, naik dari Rp458,22 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan tersebut ditopang oleh pertumbuhan produk-produk dengan margin tinggi.
Di sisi lain, Phapros juga melakukan efisiensi dengan menekan harga pokok penjualan (HPP) atau cost of goods sold (COGS). Rasio HPP terhadap penjualan pada Juni 2026 tercatat sebesar 49%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 52%.
Efisiensi tersebut membuat kenaikan penjualan sebesar 5,37% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan HPP. Dampaknya, margin laba kotor Phapros meningkat menjadi 50,4% pada semester I/2026, dibandingkan 48% pada semester I/2025.
Per Juli 2026 Phapros juga memperkuat posisi arus kas. Kas dan setara kas perseroan per 30 Juni 2026 mencapai Rp162,47 miliar atau melonjak 215,6% dibandingkan posisi 30 Juni 2025 sebesar Rp 1,49 miliar. Sementara itu, total aset Phapros per 30 Juni 2026 meningkat 4,66% menjadi Rp1,45 triliun, dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp1,39 triliun.
Selain memperkuat kinerja keuangan, Phapros terus mengembangkan portofolio produk sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis. Perseroan saat ini tengah mempersiapkan produksi produk baru dalam bentuk serbuk dari kelas terapi obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID.
Produk tersebut ditujukan untuk membantu mengatasi nyeri dan inflamasi pada kasus penyakit dental atau gigi. Produk baru tersebut akan memperkuat lini produk dental yang telah dimiliki Phapros, termasuk Pehacaine yang merupakan produk anestesi.
Saat ini, produk tersebut masih dalam tahap persiapan produksi dan akan segera memasuki tahap komersialisasi. Phapros menargetkan produk baru tersebut dapat dirilis pada kuartal IV/2026. Inovasi tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan produk bagi masyarakat sekaligus membuka sumber pertumbuhan bisnis baru bagi perseroan.
“Pengembangan produk baru merupakan bagian dari komitmen Phapros untuk terus berinovasi dan menjawab kebutuhan masyarakat. Kami berharap produk ini dapat segera diluncurkan dan memberikan kontribusi positif, baik bagi kesehatan masyarakat maupun bagi pertumbuhan bisnis perusahaan,” ujar Intan.
Di tengah penguatan bisnis domestik, Phapros juga terus mengembangkan pasar ekspor. Perseroan telah menginisiasi bisnis ekspor sejak 2014 dan kini telah mengirimkan produk ke sejumlah negara. Negara tujuan ekspor Phapros antara lain Kamboja, Filipina, Myanmar, Nigeria, Peru, dan Papua Nugini.
Produk ekspor andalan Phapros meliputi produk analgesik, obat anti tuberkulosis atau anti-TB, multivitamin, obat anti mabuk perjalanan, serta antibiotik. Pada kuartal III dan kuartal IV/2026, Phapros berencana melakukan pengiriman produk ke sejumlah negara, termasuk Filipina, Timor-Leste, dan Kamboja. Perseroan menargetkan nilai penjualan ekspor tersebut mencapai Rp5 miliar. (pa/jh. Foto: Dok. Phapros)


