HomeCORPORATE UPDATEBUMNKimia Farma Perluas Layanan Terapi Sel Punca

Kimia Farma Perluas Layanan Terapi Sel Punca

BusinessUpdate – PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF), mengembangkan bisnis regenerative medicine di Indonesia melalui terapi berbasis sel punca (stem cell). Perseroan juga memperluas akses layanan dengan menambah fasilitas kesehatan yang mampu menyediakan terapi sel punca sesuai standar keamanan dan regulasi.

“Fokus jangka pendek kami tidak sebatas memperkenalkan StemXera ke publik, melainkan memperluas jaringan fasilitas kesehatan yang mampu menyediakan layanan terapi ini dengan standar keamanan tinggi,” ujar Direktur Komersial Kimia Farma Hanadi Setiarto, Minggu (30/8/2026).

Untuk jangka menengah dan panjang, pihaknya mendorong multicenter study agar pemanfaatan klinis StemXera kedepannya semakin luas, proporsional, dan ditopang bukti medis (clinical evidence) yang solid. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya Kimia Farma memperluas bisnis sekaligus meningkatkan edukasi publik mengenai terapi sel punca.

Kimia Farma membahas perkembangan terapi tersebut dalam Talk Show Awam bertajuk Update Terapi Sel Punca & Turunannya di Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari ACTO-ASPI Annual Meeting 2026 di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana.

Dalam pengembangan bisnis tersebut, Kimia Farma memperkenalkan StemXera sebagai portofolio produk sel punca dan sekretom yang dikembangkan bersama RSCM sejak 2013. Produk tersebut resmi diluncurkan pada April 2026 sebagai salah satu pengembangan terapi regeneratif.

StemXera merupakan produk dari fasilitas laboratorium stem cell RSCM yang telah memperoleh sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari pemenuhan standar mutu dan keamanan sesuai regulasi yang berlaku.

Pada bidang ortopedi, teknologi ini dikembangkan untuk kondisi degeneratif sendi seperti pengapuran sendi (osteoarthritis). Di bidang neurologi, teknologi tersebut juga menjadi bagian dari penelitian dan pengembangan terapi regeneratif untuk kondisi tertentu, termasuk stroke.

Sementara itu, dalam bidang dermatologi dan estetika, terapi regeneratif dikembangkan untuk sejumlah kebutuhan seperti kerontokan rambut, peremajaan kulit, dan kondisi hiperpigmentasi seperti melasma. Menurut Hanadi, perkembangan terapi regeneratif harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi masyarakat.

“Perkembangan terapi regeneratif tidak cukup hanya didorong oleh perkembangan teknologi. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang tepat mengenai potensi manfaat, bukti ilmiah, keamanan, serta penggunaannya,” kata Hanadi.

Bagi Kimia Farma, inovasi harus berjalan beriringan dengan edukasi dan perluasan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, aman, serta bertanggung jawab.

Kimia Farma juga mendorong kolaborasi antara institusi pelayanan kesehatan, akademisi, peneliti, regulator, tenaga medis, dan pelaku industri. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menghubungkan riset, teknologi, kemampuan produksi, tenaga medis, serta pelayanan kepada pasien. (rn/jh. Foto: Dok. Kimia Farma)

Must Read