HomeCORPORATE UPDATEBUMNAtasi Kemarau Panjang Solusi Bangun Indonesia Perketat Penggunaan Air Baku

Atasi Kemarau Panjang Solusi Bangun Indonesia Perketat Penggunaan Air Baku

BusinessUpdate – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk memperketat efisiensi konsumsi air baku menyusul terjadinya fenomena atmosfer kering dan El NiƱo yang diproyeksikan hingga awal 2027.

BMKG memprediksi musim kemarau berlangsung lebih kering dan panjang memicu ancaman krisis air bagi kegiatan operasional sekaligus masyarakat di sekitar wilayah operasional pabrik.

Mengantisipasi dampak kekeringan ekstrem tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, mencatatkan penurunan pengambilan air baku sebesar 45% hingga 2025 dibandingkan baseline 2019. Angka ini melampaui target awal perusahaan yang mematok efisiensi 10% pada 2030.

Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia, Edi Sarwono, mengungkapkan, perubahan pola iklim yang makin ekstrem menuntut industri adaptif agar tidak membebani pasokan air bersih warga setempat. Menurutnya, air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri.

“Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” ujar Edi dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (21/9/2026).

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan Perusahaan, total pengambilan air baku di seluruh fasilitas pabrik turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada 2025. Penurunan terbesar terjadi pada porsi penggunaan air permukaan (sungai) sebesar 18%, yakni dari 841 megaliter menjadi 688 megaliter.

Sementara itu, penyedotan air tanah ditekan hingga 11% dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter. Untuk menutupi defisit pasokan, pemanfaatan air hujan (rainwater harvesting) ditingkatkan 9% menjadi 734 megaliter. Di samping itu, penggunaan air daur ulang (recycled water) dari proses manufaktur mencapai 563 megaliter atau menyumbang 31,7% dari total kebutuhan operasional empat pabrik semen perseroan.

Langkah efisiensi diterapkan melalui pendekatan teknologi berbeda di setiap lokasi fasilitas produksi. Di Pabrik Lhoknga (Aceh), perusahaan memaksimalkan fasilitas penampungan air hujan sehingga berhasil menghentikan total (100 persen) penggunaan air baku yang bersumber dari sungai untuk operasional sepanjang 2025.

Sementara di pabrik Narogong (Jawa Barat), perusahaan memasang sistem otomatisasi Programmable Logic Control (PLC) dan Internet of Things (IoT) pada River Pump Management. Distribusi air yang terukur secara presisi ini memangkas konsumsi air tawar sungai hingga 82 megaliter.

Ada pun di pabrik Cilacap (Jawa Tengah), perusahaan memanfaatkan kembali air hujan di kolam penampungan (settling pond) untuk proses produksi, yang menghasilkan pengurangan porsi air baku sebesar 37%. Edi menegaskan, langkah efisiensi dan pengalihan ke sumber air alternatif bukan lagi sekadar pemenuhan regulasi, melainkan strategi bertahan di tengah ketidakpastian iklim. (ip/jh. Foto: Dok. SBI)

Must Read