BusinessUpdate – Memperkuat inovasi berbasis teknologi bukan lagi menjadi pilihan melainkan sebuah kewajiban, inilah yang membuat PT BPR Karanganyar (Perseroda) sadar bahwa hal tersebut sangat perlu dilakukan.
Upaya ini dipaparkan dalam penjurian Indonesia Digital Technology and Innovation (IDTI) Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring pada Senin (28/09/2026).
Sesi penjurian tersebut dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan strategis PT BPR Karanganyar (Perseroda) yaitu:
1. Wisnu Wardana, selaku Direktur Utama
2. Amien Maryadi, selaku Kepala Bidang IT
Dalam pemaparannya di hadapan Dewan Juri IDTI Awards 2026, manajemen PT BPR Karanganyar (Perseroda) membeberkan strategi transformatif pada efisiensi anggaran dan ketepatan sasaran untuk membangun ekosistem perbankan digital yang berkelanjutan di skala daerah.
Dalam membangun ekosistem teknologi, PT BPR Karanganyar menyadari adanya tantangan umum di industri perbankan skala daerah yang seringkali membakar modal (Capex) besar demi membangun aplikasi dari nol. Karena itu BPR Karanganyar mengambil langkah yang lebih terukur melalui Tiga Pilar Strategi Transformasi:
Pilar 1: Customer Centric
Memberikan akses layanan yang inklusif, lebih mudah, dan jauh lebih cepat kepada nasabah. Perusahaan memindahkan titik layanan dari antrean kantor fisik ke dalam genggaman smartphone nasabah melalui pemanfaatan kanal digital mandiri yang terintegrasi.
Pilar 2: Smart & Efficient (Membangun yang Dibutuhkan)
Mengembangkan solusi inovatif berdasarkan kebutuhan nyata nasabah (bukan sekadar mengikuti tren pasar semata). Perusahaan memfokuskan sumber daya internal IT untuk membangun otomatisasi (seperti notifikasi dan integrasi API) yang sifatnya tepat guna dengan biaya yang efisien.
Pilar 3: Strategic Partnership (Berkolaborasi)
Berkolaborasi strategis dengan mitra teknologi berlisensi (Fintech/Payment Gateway) guna memperluas kapabilitas layanan transaksi BPR tanpa harus membangun seluruh infrastruktur teknologi yang sangat mahal dari awal.
Sesi penjurian PT BPR Karanganyar (Perseroda) bersama dewan juri berlangsung interaktif. Wisnu mengatakan bahwa masukan dari keempat juri semuanya sangat tepat dan membangun.
Dari sisi penyajian, Wisnu menyebut memang perlu melengkapinya dengan data perbandingan before-after, dan datanya sudah ada namun belum dicantumkan dalam penjurian.
”Terkait masukan dari Prof. Yandra mengenai pentingnya penambahan sumber daya IT bagi BPR, hal tersebut sangat kami recommended dan menjadi catatan penting bagi kami. Meskipun tadi belum sempat terjawab secara rinci mengenai angka ideal untuk 150 sekian pegawai itu butuh berapa tenaga IT, masukan ini tetap sangat berharga untuk kami kembangkan ke depannya,” tutup Wisnu. (kiy)


